Sheina Jadi Pelacur Untuk koruptor
Chapter 4

Oleh : Minhadzul Abidin

Dari penjelajahan ku di karang kongo dan melihat potret sebenarnya yang terjadi di kampung halamanku yang terkenal sangat menjujung nilai-nilai syari’at islam, Aku mulai mendengus panjang, tubuhku lunglai, tatapan mataku mulai tidak terfokus, ada duri yang menusuk lerung hatiku, inikah potret kehidupan yan tidak bisa kita pandang sebagai sebuah paradigma hitam putih, niatku untuk mencari Sheina di kegelapan malam ini tidak lagi tumbuh, menurutku Sheina adalah bagian simpul dialektika kehidupan yang mulai terpusat pada titik antitesis kehidupan fatamorgana ini , “ ayo kita pulang” begitu aku berucap dengan suara lirih kepada Muse yang sejak dari tadi menemaniku, entah apa dipikirannya melihatku duduk tersungkur di pasir putih yang baunya menyegat seperti kotoran manusia, “ kamu tidak apa-apa Ril?” dengan nada yang polos tanpa beban, “ “gak, apa-apa koq, ayo kita pulang” dengan nada yang seadanya dan hatiku menerawang tidak tahu entah kemana.

Malam yang gelap kami mulai meyusuri jalan yang melintasi pasangan-pasangan bahagia yang tidak mau terlepaskan, pasangan yang ingin menghabiskan waktu malam seakan-akan besok atau entah kapan lagi mereka tidak akan bertemu malam yang indah seperti ini, begitu dekat dan begitu hangat tidak mau membiarkan kekasihnya untuk meninggalkannya meskipun akan kembali lagi “ “tidak jadi, kita mencari Sheina?” pertanyaan Muse membuyarkan lamunanku, “ aku sudah menemukan Sheina-Sheina disini, buat apa dicari lagi, buat apa aku harus menyelamatkan hanya satu Sheina, sementara Sheina-Sheina lain begitu banyak dan menjamur!” begitu diplomatis aku mejawab dan mulai berputus asa, “tidak usah sok moral begitulah Ril, ini sudah biasa” Muse melanjutkan pembicaraannya, begitu menohok pernyataan itu, aku mencoba mau marah, tapi aku tersadar “apakah aku lebih baik dari mereka dan banyak tokoh agama dan pejabat pemerintah yang akan menyelesaikan masalah ini” hatiku bergumam “ tapi apakah permasalahan ini begitu sederhana, tidakkah ini dipandang sebagai bencana bagi masyarakat kepulauan yang selalu bersendikan syari’at islam, begitu mudahnya karang kongo dijadikan seperi tempat lokalisasi, apa artinya konsep pengembangan generasi muda karena generasi muda sekarang mengalami degradasi moral yang menurut temanku Mu’arif itu adalah salah satu dari tujuh penjara plotik yang berdampak luas terhadap dinamika peruabahan masyarakat kepulauan sapeken, terus apa artinya SAPEKEN IBADAH, ketabuan masyarakat, jilbab dan sarung, dan apa artinya khutbah yang selalu meraung-meraung menyuruh kita untuk untuk amar makruf nahi mungkar ” lanjutku dalam hati. Kalau semua ini dianggap sebagai sesuatu hal yang lumrah, Aku jadi teringat penggalan Puisi Gus Mus “ Kau ini bagaimana atawa aku harus bagaimana, Tuhan yang katanya dekat, tetapi selalu kau panggil dengan pengeras suara setiap kali kamu menghadapnya, kau menyuruhku berpikir tapi kau tuduh Aku kafir, Kau ini bagaimana atawa Aku harus bagaimana?”

Aku tiba di rumah dan melihat sheina duduk dengan santai tanpa masalah dan tanpa dosa dengan Rambut yang masih basah, pasti lagi habis keramas, memang Sheina mandi atau tidak mandi selalu kelihatan segar (fresh), sesegar daun teh yang dipetik di daerah pegunungan puncak bogor, “tumben, sudah pulang?” aku langsung bertanya dengan nada interogasi, “Yup, aku baru pulang honey, aku sekarang bahagia banget” sambil Sheina mencoba memelukku, dengan gaya yang sangat nakal menggodaku “ kamu lagi mabuk ya?” Aku bertanya dan mulai tidak suka dengan gelagat Sheina yang tidak mulai terkontrol “ Yup, aku mabuk dengan kebahagiaan, ternyata hidupku sekarang penuh warna” memang hidup ini adalah selembar kertas putih yang dibuat warna oleh manusia itu sendiri, tergantung warna apa yang dia sukai yang merupakan pilihan jalan hidupnya masing-masing, begitu Aku teringat kata seorang motivator Mario Teguh yang terkenal dengan golden ways, SUPER!! Dalam hatiku bergumam, “ oh iya ril, besok Aku mau pindah dari rumah kamu, Aku mau tinggal di rumah Mbak Desy, dan memulai hidup baru”.

Semenjak Sheina tertangkap basah sedang berbuat mesum dengan seorang pria di bulan Ramadhan dan bahkan akan dirajam, sehingga keluarganya tidak lagi mengakui Sheina dan terkesan membuangnya serta dibiarkan terlantar, tetapi Aku dengan senang hati membawanya ke rumah, meskipun dengan nada cemoohan tetangga dan orang-orang disekitar kami, tetapi kami sekeluarga tetap menerima Sheina, sekarang Sheina tanpa bersalah sedikitpun dan sungkan berniat untuk pindah dari rumahku setelah perlakuan baik kami selama ini, “ tapi niatku membantu Sheina khan ikhlas” gumamku dalam hati, “ ya sudah itu khan pilihan kamu” aku bertutur dengan nada dan terkesan acuh tidak acuh, mungkin Sheina sudah menemukan jalan hidupnya, mungkin di rumahku ini, Dia tidak menemukan kebahagian itu , aku mencoba berpikir positif, “ ta…ta pi koq di rumah Mbak Desy” aku langsung bertanya dengan gagap menandakan kekhawatiranku selama kepada Sheina, ketika Dia menyebut nama Mbak Desy “ Ya. Iya lah.. Mbak Desy adalah malaikat penolong yang diturunkan ke bumi untuk menolongku” Malaikat juga tahu siapa Mbak Desy sebenarnya, hatiku berkomentar, memang sih wajah dan tubuhnya sangat menawan seperti bidadari, tetapi tidak menjadi rahasia umum jika Mbak Desy sering dilabrak oleh istri-istri yang mengetahui suaminya selingkuh dan sering di porotin oleh Mbak Desy, belum lagi tukang kredit yang selalu ngomel-ngomel yang memekakkan telinga di depan rumah Mbak Desy hampir tiap hari, apakah orang seperti Mbak Desy bisa di interpretasikan sebagai seorang malaikat penolong?, cuma Sheina yang mengetahuinya, bagiku Mbak Desy adalah siluman ular, yang selalu menghisap mangsanya dari belakang, takutnya Sheina bagian dari korbannya.

Kepergian Sheina tidak lagi menghiasi rumah ini, membawa kedukaan tersendiri bagi Aku, meskipun Sheina cuma pergi ke rumah tetangga, ada hal yang hilang dalam diriku, terasa bagian hidupku yang Selama ini aku abdikan (mahyaya wa mamati) untuk Sheina Seseorang, Aku tidak lagi bersemangat melanjutkan sisa hidupku, seperti matinya semangat untuk melanjutkan kuliahku yang tidak pernah selesai.
TUUUUTTTTTTTT….TUUUUUTTTTTTTT…..TUUUTTTTTTTTT, sudah tiga kali bel kapal perintis menandakan akan segera berangkat ke Banyuwangi, Aku segera naik Kapal yang merupakan jantung hidup masyarakat kepulauan Sapeken, dengan langkah yang berat, aku sudah mati rasa, apa yang kucari dengan tujuanku, kehidupanku sudah mati di kampung halamanku sendiri,karam di hati seorang wanita yang memiliki tatapan yang indah, baiknya semua kenangan terindah aku hapus, baiknya setiap kerinduan tidak mau kuratapi dengan penyesalan. Aku pergi sheina dan sangat berharap Kau berteriak memanggilku dan memelukku dengan erat agar Aku tidak pergi dan menagis dalam pelukanku dan mengatakan I LOVE YOU, tapi itu cuma khayalan dan Kapalpun melaju seperti Setan yang terbirit-birit di kejar Tuhan.

**************“
Sheina, bangun donk, ada yang mau ketemu tuh” dengan nada mendesah khas suara mbak Desy, langsung dengan tatapan Perasaan bingung dengan Sosok di depannya, Perempuan sintal berbaju merah dengan rok mini dan belahan dada yang menggoda, begitulah dandanan Mbak Desy kalau Bang Madun (suaminya) melaut. “ ada apa Mbak?, neh khan masih pagi” sambil mengucek matanya,” kamu ya, rezeki itu di pagi hari, Masak anak gadis masih tidur jam segini, apa kata dunia” berucap dengan goyangan khasnya “ Tuh ada siapa di ruang tamu, ayo gih cepetan” sambil berlalu dengAN goyangannya kalau jalan (maaf) pantatnya naik turun.Sehabis mandi dan berdandan seadanya dengan memakai kemeja putih tipis dengan underwear atas bawah warna orange, begitu menggoda ketika melihatnya, apalagi sang tamu yang wajah dan perangainya adalah tipe om-om mata keranjang, umurnya sudah hampir 50 dan mempunyai seorang cucu, tapi tetap kelihatan muda dan perkasa, Dia adalah Pak Reynold yang dari tadi mau menahan pipis karena sejak tadi Mbak Desy duduk dipangkuannya, Pak Reynold seorang Pejabat kepala Pelabuhan yang terkenal dan juga mempunyai bisnis jual beli kapal dan Bahan Bakar Minyak, Pak Reynold jarang bertugas dikantornya kebanyakan waktunya dihabiskan untuk bisnis, tetapi setiap ada bantuan untuk pemberdayaan nelayan atau peningkatan fasilitas kapal perintis dan terima gaji beliau selalu ada di kantor, dan bahkan menjadi orang terdepan, tetapi Pak Reynold tidak pernah menyampaikan sumbangan tersebut ke nelayan miskin, belum lagi ketika Pak Reynold disuap oleh Para nelayan luar daerah yang menggunakan bahan peledak dan alat-alat canggih (porsen) untuk mengambil ikan di wilayah nelayan yang menggunkaan alat tradisional. jadilah Pak Reynold penguasa laut di Kecamatan Sapeken, kalau ada yang berani LSM atau tokoh masyarakat melaporkan atau mengkritisinya, Pak Reynold tidak segan-segan memberikan hibah atau hadiah dalam jumlah besar kepada orang tersebut untuk membungkam mereka dan bagi Sheina Pak Reynold adalah target operasi yang ideal karena memang koruptor tulen.

Semakin tinggi hasrat untuk korupsi, semakin tinggi nafsu seksualnya itu dibuktikan oleh Pak Reynold, berapa kali dia selingkuh bersama istri-istri orang lain termasuk Mbak Desy, “ oh.. jadi ini barang barunya” begitu pak Reynold memilintir kumisnya setelah melihat Sheina “ Sheina sini sayang. Kenalin ama om ‘ganteng’ Reynold” begitu suara Mbak Desy membujuk Sheina, Sheina langsung menghampiri dan langsung membuka kemeja putihnya, tinggallah Sheina hanya memakai underwear warna orange, semakin tampaklah kulitnya yang mulus dan bentuk tubuhnya yang indah, ini merupakan shock therapy kepada pelanggan seperti Pak Reynold, Pria tua uzur yang doyan seks meskipun sering ejakulasi dini, metode ini memang sudah dilatih (training) dengan konsep learning by dewing oleh Mbak Desy, Sheina yang merasa gagal dalam hidupnya yang selalu terbungkus dengan kesialan karena naluri seksulitasnya yang tinggi, mencoba mencari peruntungan dengan mencoba menjadi PSK (Penjaja Seks Komersiil), tetapi dia menawarkan satu syarat kepada Mbak Desy yaitu dia hanya mau melayani pejabat-pejabat koruptor Di kepulauan, entah apa alasannya?, Mbak Desy bingung dengan syarat itu, karena Mbak Desy jua tidak mengerti akhirnya dia mengamini, dimatanya hanya terpampang duit yang banyak, adapun prinsip pembagiannya dengan metode bagi hasil 40%:60%, Mbak desi sebagai germo menerima 40% dari total penghasilan dan Sheina 60% diluar hadiah yang diberikan oleh pemakai jasa. SEPAKAT!“ Bagaimana Om disini atau??” dengan lansung duduk dipangkuan Pak Reynold menggantikan Mbak Desy, dengan meletakkan tangan Pak Reynold di payu dara Sheina yang montok, “dikamar mandi, mm.. maksudnya saya mau ke kamar mandi” dengan tergopoh-gopoh dan memegang celananya, Pak Reynold bergegas ke kamar mandi, dan Sheina pun tersenyum dalam hatinya “ dasar aki-aki udah bau tanah masih doyan saja, memang kuat” setelah ke kamar mandi, dengan wajah agak letih Pak Reynold berkata “ oh iya ini untuk kalian” sambil menyerahkan (20 lembar uang seratus ribuan), “ tapi ,Om khan belum!!” Sheina dengan genitnya begitu menggoda, “ hari ini sudah cukup, tetapi besok kamu ikut ke Banyuwangi, kita akan check in ke hotel, disini gak aman, bayarannya juga gede, om pamitan dulu” sambil mencium bibir indah Sheina. Sheina pun jadi ikut ke Banyuwangi.

Banyuwangi adalah tempat strategis untuk para orang-orang yang suka selingkuh, kapal perintis menginap dua hari di pelabuhan Banyuwangi untuk kemudian berangkat lagi ke Pelabuhan Sapeken, cukuplah untuk paket long time selama 2 hari. Di hotel setelah Om Reynold terkulai lemas, sheina memulai pembicaraan “ Om, boleh gak aku minta sesuatu “ dengan nada yang merayu, “sayang , kau sudah memberikanku pelayanan yang dahsyat, apapun permintaanmu akan kuturuti” begitu Pak Reynold meyakinkan disela-sela keletihan tubuhnya,” asalkan jangan bumi dan langit”, begitu Pak Reynold meyakinkan “tetapi jangan terkejut ya, Om, aku mau kapal satu” sambil menindihi Tubuh Pak Reynold yang mulai keletihan, “upzzz, itu khan mahal sayang, tapi untuk kamu apa sih yang gak, memang mau buat apa?” dengan nada polos “ mau buat jalan-jalan om, tapi yang bagus ya, itu lho kapal yang namanya KASIMPUNGANKU ” sambil menciumi tubuh Pak Reynold yang sudah berkeringat.

************
Sheina, Sheina, Sheina, suara itu memanggil Sheina, “siapa ya?” dengan perasaan takut dan khawatir “ini aku om Reynold” suara itu mencoba meyakinkan “ ada apa sih tua bangka datang malam gini?” dalam hatinya Sheina berujar, “iya Om, tunggu sebentar” kemudian dibukalah pintu tersebut “Sheina, ini surat hak kepemilikan kapal, seperti om yang janjikan” dengan sangat hati-hati “ terimakasih OM, kenapa malam-malam sih om?” dengan penuh tanda Tanya “ takutnya ketahuan sama istriku, udah dulu ya sayang” sambil kembali mencium bibir merah sheina.

Akibat promosi yang besar-besaran Mbak Desy, Sheina akhirnya menjadi buah bibir para koruptor yang suka selingkuh, HP mbak desy, setiap waktu terus berdering dari para pemakai jasa, jadilah sheina menjadi primadona, Mbak desy sebagai germo professional mencoba memainkan harga, karena menurut hukum ekonomi harga akan semakin tinggi jika semakin banyak permintaan, daftar-daftar yang sudah masuk di buku pemesan dari berbagai kalangan yang suka korupsi ria dari koruptor kelas kakap sampai kelas teri, Ada Pak Sembiring seorang kepala sekolah yang gemar menyulap Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), Pak Bastian seorang pejabat kesehatan yang sering menjual alat-alat dan obat-obat rumah sakit dan korupsi bantuan biaya operasional rumah sakit, ada Pak Kembung yang sering memeras pengusaha ikan dengan kekuasaan jabatannya,ada lagi Pak Timbul kepala kehutanan yang melakukan illegal logging secara sembunyi-sembunyi, bahkan seorang Ustad yang korupsi bantuan pendidikan untuk pesantren, ikut–ikutan jadi pelanggan, semua dilayani dengan Sheina dan bahkan ada yang terus minta lagi, lagi dan lagi.

Kecenderungan Sheina untuk melayani para Koruptor di Kepulaun Sapeken, memang merupakan tanda Tanya besar, dan Sheina masih merahasiakannya. Ketika ada seorang Ibu-Ibu yang terkena pendarahan dan harus di rujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah, kalau tidak nyawanya tidak akan terselamatkan lagi, dan jadwal kapal perintis saat itu tidak ada, banyak orang yang melihat dari kejauhan yang membawa Ibu tersebut adalah Kapal KASIMPUNGANKU…

-Judul diilhami oleh Cerita bersambung SINDO dengan judul Limbung, karya Maria Magdalena B
• Cerita tersebut adalah rekayasa belaka, jika ada yang sama itu hanya sebuah kebetulan.
• LAWAN KORUPTOR
• She
ina akan terus berlanjut, tunggu ya sheina 5

>>baca lagi......


SHEINA
SAPEKEN UNDER COVER

Chapter 3


Oleh : Minhadzul Abidin

Tatapan itu mulai Aku rasakan dimana penderitaan dan segala kekecewaan dalam tatapan itu, penuh gejolak emosi, seperti tatapan dendam, wajahnya membeku dan nafasnya tersengal-sengal, tubuhnya penuh keringat dan mulutnya membisu tetapi Aku yakin dia mau berkata sesuatu. hatiku semakin berharap semoga bukan dia, tetapi semakin mendekat, Aku semakin yakin dia adalah SheinAku, dia adalah ruh abadiku, dia adalah tumpuan harapanku dan cita-citAku, dia adalah surgAku, dia adalah nafasku, disampingnya tergelatak laki-laki botak biadab yang mempunyai julukan pendekar pemetik bunga, yang namanya seperti tokoh anti kekerasan di India, pahlawan yang mempunyai nama besar bukan hanya di India tetapi di dunia, tetapi kalau orang ini berbeda sekali dengan namanya 揳pa istimewanya dia?, sudah botak, tua, pengangguran, punya istri banyak?hatiku bergumam, kemana Dare yang sejak seharian bersama Sheina, sejak kapan Sheina kenal ama si BOBBI ini (Botak Biadab), 搆ok gampang sekali Sheina tunduk kepada laki-laki itu?suara hatiku mengeluh, dan apa arti perubahan dan ide-ide revolusioner kaum wanita di kepulauan yang kemarin sering dilontarkannya, beberapa pertanyaan menghantui dalam batas kesadaranku, tetapi itu tidak membuatku marah atau kecewa dengan Sheina, Aku berpikir positif saja, Aku akan selalu mencintai kamu Sheina.

?bakar saja, rajam!!?suara-suara itu semakin menjadi, ibarat lolongan serigala di film horor, mereka tidak tahu apa yang kurasakan nuansa mengharu biru dalam dekapan hatiku, air mata yang merupakan wujud titipan kenikmatan Tuhan yang diberikan kepada manusia begitu mudahnya Aku keluarkan, karena selama ini ditengah perjalanan kehidupanku yang tidak menemukan titik akhir yang selalu terurai derita dan menyulam kenisbian, air mata itu jarang Aku keluarkan, 揂nak Durhaka, bangsat, mati saja kamu?suara lengkingan yang treblenya dinaikkan kemudian bass nya diturunkan menghentakkan degup jantungku yang sejak dari tadi berirama seperti alur musik lagu rapnya eminem yang bergerak dalam irama cepat sekarang menjadi nyayian bunga seroja yang syahdu karena sura lengkingan sosok gaek didepanku yang dengan cepat, secepat tangan Peter Cech (kipper Chelsea) menghalau tendangan Criastiano Ronaldo (Manchaster United), kemudian tangan itu menampar wajah mulus itu, ditambah lagi tinju Uppercut dari laki-laki tua itu, ya kalau ditambah lagi dengan tendangan tanpa bayang Jet Lie mungkin apa jadinya?, sejenak Aku mulai beraksi, Aku tidak akan pernah rela seorang perempuan dipukuli didepan mataku, ada dua hal yang menjadi kelemahanku yang mungkin bisa menjadi keunggulanku, pertama Aku tidak mungkin rela wanita menangis didepanku dan Aku akan luluh dan merasa bersalah jika wanita menangis didepanku, kedua Aku tidak akan pernah mengecewakan atau bahkan melukai hati seorang wanita, karena wanita adalah sosok ibu yang harus kuhormati, seperti Ibu ku yang selalu penuh kasih sayang kepadAku, romantis kan Aku he.he..

Bapak tua tersebut dengan pasti mulai melayangkan tendangan tanpa bayang jet lie yang merupakan jurus pamungkasnya, yang memliki kecepatan tinggi yang kalau dilebih-lebihkan, setara dengan kecepatan suara yang sama dengan 1238 kilometer/jam, tetapi dengan kecepatan cahaya 1 c (Konstanta kecepatan cahaya) yang sama dengan 1.079.252.848,80 kilometer perjam (km/h) Aku mulai menghalau tendangan tanpa bayang itu, karena tidak berdasar rumus waktu yaitu jarak dibagi dengan kecapatan (t = s / v) , PLAKKK!!! terpaksa tendangan itu mendarat dimukaku, Aku tidak mengitung waktunya dengan tepat, sakitnya minta ampun, bintang-bintang dan bentuk yang beraneka ragam sudah ada didepan matAku, matAku mulai lelah dan tubuhku bergoyang, tetapi entah kekuatan dan dorongan apa Aku mulai mengeluarkan jurus-kuda-kuda yang sempat Aku pelajari waktu di Madrasah dulu, dan ilmu turunan dari orang tua MANCA 揹ere, Rasyad duko kokobbongan?, ada yang nyeletuk ?hei, anak muda, mengapa kamu membantu wanita hina kayak dia?, mau cari mati juga kamu, ?suara orang yang berkumis melintang bak sakera memanaskan suasana, ?maaf sebelumnya, saya tidak mau ikut campur, tetapi Negara kita adalah Negara hukum, dimana kita tidak bisa kita melAkukan tindakan main hakim sendiri, ?dengan bijak Aku mulai menjelaskannya dengan hati-hati, ?hei anak muda, ini hukum Islam dan bagian hukum adat kita, bagi siapa yang berzina harus dirajam?kata bapak yang berkumis tebal itu, ?maaf pak memang benar kewajiban kita selalu berpedoman dengan hukum islam, tetapi kita hidup di Negara yang memakai hukum positif dan hukum islam harus kita pahami secara kontekstual dan ada kaidah fiqih yang mengatakan 搕aghayyur al-ahkam bi taghayyur al-azminati wa al-amkan,?hukum berubah sesuai dengan waktu dan tempat ?dengan pengetahuan yang pas-pasan Aku dapatkan waktu diskusi tahun lalu dengan teman-teman dari FORMACI (Forum Mahasiswa Ciputat), berguna juga ya dalam hatiku , ?Jadi kamu tidak percaya dengan hukum Islam?Bapak berkumis tebal itu mulai naik pitam, 揾ei Bacok, Aku ini Bapaknya dan Aku rela anak seperti ini mati digantung malu-maluin nama orang tua, ?dengan aksen dan gaya madura, 搆amu jangan ikut campur!!!?lanjut Bapak tua tadi sembari diacungi jempol sama bapak yang berkumis lebat yang mencoba menjadi provokator , 搄angan berdebat rajam,rajam?suara itu mmbekap suasana, mengelapkan nalar yang sudah mulai kelam ingin memuntahkan lahar kemarahan mereka, kemudian datanglah aparat keamanan seperti di film yang sering datang belakangan setelah semua urusan sudah selesai, tetapi untung saja aparat keamanan ini datang tepat waktu (tumben) 搇ebih baik besok kita selesaikan masalah ini dikantor polisi dan diharapkan bubar ?begitu pak polisi menginstruksikan 搘uuu, Polisi Patek?, suara itu sayup-sayuup terdengar sembari massa membubarkan diri, ?awas kamu ya!! jangan pulang ke rumah dan kamu sudah tidak saya anggap sebagai anak lagi?begitu suara Bapak Sheina sambil berlalu dengan meludah seperti kompeni yang meninggalkan para inlander-inlander pribumi.

Malam semakin larut dan mulai senyap, lolongan suara kitab suci yang dikumandangkan di Mushalla sudah lenyap, terlelap dengan penghamba yang menanti cinta kasih dan hamparan keridhoan Allah, Suasana di depan Balai Desa semakin sunyi tinggal Aku dan Sheina dalam keadaan diam, ?oh iya, untuk sementara kamu tinggal dirumahku saja?begitu Aku menawarkan, dengan hati-hati tAkutnya Sheina tersinggung, tanpa mengeluarkan kata-kata Sheina mengangguk, setibanya di rumah karena orang tuAku adalah orang yang demokratis dan menerima Sheina dengan senang hati untuk tinggal dirumah, meskipun akan menimbulkan buah bibir ?Sheina, mandi dulu, dan istirahat disini saja, tapi banyak nyamuk lho?ibu ku dengan penuh kasih sayang seperti kepada anaknya dan mulai melupakan dosa dan kesalahan Sheina serta tanggapan masyarakat besok bahwa si pezina itu menginap di rumah. karena kamarku dipakai oleh Sheina, Aku jadi tidur diluar, tetapi malam itu Aku tidak bisa tidur, matAku cobAku penjamkan, tapi bayangan Sheina dalam rintihan dekapan Botak Biadab itu, selalu membayangiku, ditambah lagi tingkah Beib waktu di Jakarta, aksi-aksi kebrutalan teman-temannya terhadap Sheina di puncak, apa artinya semunya itu apakah ini semacam Tanur dimana tanda-tanda kepada Nabi Nuh dan umatnya untuk mempersiapkan diri untuk keluar dari negeri maksiat yang akan ditimpakan azab dari Allah, Aku mulai terhanyut dengan perasaanku, Aku mulai memejamkan mata dan semuanya gelap sehingga Aku pun membekas dalam pengembaraan mimpi diterpa perasaan yang menggelora.

Untuk menjaga kondisi dan demi kebaikan semua, Sheina Aku ungsikan kerumah Pamanku yang berada di Pagerungan Besar, salah satu Desa di Kecamatan Sapeken yang merupakan Desa yang sangat maju karena sebagai ladang eksplorasi gas bumi, Aku tidak tahu berapa keuntungan Perusahaan yang mengelola Gas bumi yang sudah beberapa tahun mengeksploitasi gas bumi itu, dan berapa dana untuk pemberdayaan masyarakat (community development) di kecamatan sapeken, tepat jam 3 sore kami tiba dirumah pamanku, dari perjalananku dari jembatan ke rumah pamanku, hal yang lumrah begitu banyak decapan kekaguman dari para lelaki setelah melihat Sheina, ?Sheina besok Aku pulang ke Sapeken, karena besok lusa lebaran, kamu betah kan disini??malam yang indah diterpa sinar bulan purnama kami mengobrol di bobollo , kemudian Sheina memelukku dengan erat sambil mengerang, mungkin kegelisahan dan ketakutan yang kemarin dia pendam mulai ia tumpahkan, ?maafkan Aku Amril, mafkan Aku?Sheina terus saja mengulang kata-kata itu, dan pelukannya semakin erat dan menambah ketegangan dalam tubuhku, semakin erat pelukannya semakin memaksimal ketegangan yang mendera sebagian tubuhku, Aku mulai basah, maksudku bajuku yang basah karena air mata Sheina, dan lama kelamaan Sheina mulai melepaskan dekapannya, dan mulai berhenti menangis, sambil berkata 揂ku betah koq?dan kemudian Sheina berlalu dihadapanku dan Aku masih menikmati dekapan itu dan terhanyut pada perasaan Sheina sekarang, Aku yakin dia butuh orang yang mengerti dan memahami perasaannya.

Sudah lima hari Aku meninggalkan Sheina di pagerungan besar, terasa ada yang hilang dalam diriku, menghentakkan kerinduan, merindu kala alam sunyi menyapa pangeran, sekejab nian sekilas musnah tanpa abu, asap dan sepengetahuan , layak jelangkung dalam lakon kaca ajaib, mengapa hantu-hantu kerinduan itu selalu bergentanyangan dalam pengembaraanku, oh nirwana agung penguasa angkara murka dan kedigjayaan, mungkinkah apa yang Aku alami ini akan disambut dengan ketulusan senyumannya, maaf dari surga untukmu, suara HP ku berbunyi, pamanku telepon suranya tampak tergesa-gesa, ?Ril paitu ko dali, ore Sheina dirilit takarapat ye beke lelle ma lokasi?, inna lillah serasa bumi ini berhenti berputar karena mau di potret Tuhan memakai kamera raksasa yang diambil dari langit, begitulah perasaanku, sejenak Aku tersungkur menghayati pembicaraan pamanku dan Aku tidak mendengar lagi kata-kata pamanku, HP pun Aku matikan, cobaan apa lagi ini, tanpa sepatah kata, Aku mulai mengambil tas dan bersiap berangkat ke Pagerungan Besar mencoba menjadi pahlawan yang kesekian kalinya bagi Sheina.

Sheina kembali lagi ke rumahku, Aku menjemputnya dan mencoba menenangkan massa yang ingin mengeroyok untung ada bantuan pamanku dan sedikit lobby kepada Kepala Desa Pagerungan Besar, Aku jadi bisa membawa Sheina, selama perjalanan Aku melakukan aksi mogok bicara, mungkin sebagai punishment bagi Sheina,supaya Sheina bisa belajar atas kesalahannya, selama tiga hari Aku tidak bisa menyembunyikan perasaanku dan merasa bersalah terhadap aksi diam ini, ?Ril mau nonton orkes tidak dikampung bukut ada orkes lho??Aku diam saja meskipun dalam hatiku Aku mengiyakan, ya udah 揗bak desy ngajak Aku?sambil berlalu dihadapanku, Aku tekejut ketika dia menyebut mbak desy, ya.. mbak desy sosok yang paling Kontroversial se-kecamatan sapeken, kalo ada istilah ?pongkat ellene, endenedu pongkat?benar mbak Desy lah ahlinya, memiliki tinggi tubuh 172 cm, proporsional dengan berat badan dan tubuhnya, yang memang tidak menjadi rahasia umum lagi dan suami mbak desy adalah nelayan bernama Madun, beauty n the beast begitulah mbak desy dan madun digambarkan, dan beberapa kali orang mengadu kepadanya tentang ulah mbak desy ini kalau dia melaut, suaminya pasti mengelak, dan berkata ?Aku selalu percaya?begitulah Madun berucap bak slogan Barack Obama change we can believe in, tetapi mbak desy adalah sosok yang loyal kepada pejabat dan polisi, maksudnya loyal dalam memanjakan nafsu polisi dan pejabat tersebut, Aku jadi terkejut ketika Mbak Desy mengajak Sheina, Aku harus melihat dan mengawasi mereka, mungkinkah ada kejahatan terencana.

Ditempat Orkes dangdut ini kayaknya strategis, maksudnya strategis untuk orang yang dimanjakan dan dimabuk asmara, tempat yang gelap Cuma debu yang menyesakkan hidung, Aku yakin kok orang sapeken dari dulunya adalah ahli-ahli ibadah sangat menjunjung tinggi Syariat Islam seperti yang diungkapkan oleh Baginda Ustadz yang sangat dihormati di Sapeken, upz.. astaghfirullah mataku terbelalak melihat aksi dua sosok yang lagi dimabuk asmara yang biasanya dilakukan Angelina Jolie dan Brad Pitt dalam film Mr and Mrs Smith, lama Aku melihatnya dan sedikit menikmatinya, tetapi Aku cepat mengontrol diriku dan mulai mencari-cari Sheina ditengah kerumunan orang, ?hei Ril sedang apa tumben nonton orkes biasanya anak rumahan?suara itu mengagetkanku ?oh iya lihat Sheina tidak? ?Aku mecoba bertanya dengan serius ?oh iya mungkin dikarang kongo Aku, lihat dia bareng Mbak Desy?hatiku berdegup kencang Aku takut beberapa kejadian terulang lagi ?ayo kita susul, takut terjadi macam-macam?dengan nada memaksa dan sedikit khawatir, dan kemudian kami meluncur melintasi pantai disepanjang karang kongo memang tempatnya gelap, dan disinilah adegan-adegan yang biasa Aku lihat di website,naughtyamerica,milf, xxx, pornhub, dimainkan, mulai diatas kapal karam dekat pantai, kemudian dipasir putih, di pohon bakau, di pohon kelapa, diatas sepeda motor, ditengah bau amis kotoran manusia yang menusuk hidung. Sungguh adegan yang luar biasa, apakah Sheina ada di tempat ini, sekelebat dalam kegelapan Aku melihat perempuan lagi terenyuh diatas seorang laki-laki dengan manjanya, mungkin Sheina, lama kami melihat dan mencoba memperhatikan adegan mereka lewat cahaya bulan purnama, astaghfirullah?itukan Amel, tetanggaku yang nyantri disebuah pesantren, 揳pa kata dunia?gumamku dalam hati. Pantai indah karang kongo yang dinikmati keindahannya di siang hari, ternyata dimalam hari adalah tempat lokalisasi, Serusak inikah wajah sapekenku dimalam hari,dimana sajadah, tasbih, mukena, sarung yang mereka kenakan di siang hari, mungkin Sheina adalah potret terungkap degradasi moral di kecamatan Sapeken, Aku yakin Sheina-Sheina yang lain akan selalu bermunculan ditengah perkembangan arus globalisasi dan akses informasi yang menjerat budaya dan moral kita dalam paham kebebasan, mungkin tugas kita menyibak potret-potret yang terselubung itu menjadi nyata dan ditampilkan kemasyarakat bahwa ini benar ada dan secepatnya seluruh pemuka agama dan para pendidik mulai memberikan solusi bukan ancaman dan punishment kosong (fatwa) yang membelenggu nalar dan memberikan ketakukutan, pendekatan emosional dan sex education adalah jawabnya dengan tetap berlandaskan Syariat Islam, Aku mulai hanyut dengan perasaanku, Aku tidak lagi sedih dan khawatir karena Sheina, tetapi kepada seluruh perempuan di dunia ini, terutama di kepulauan tercintaku ini? Aku pun menangis sejadi-jadinya sampai air mataku habis seraya habisnya nikmat Tuhan yang Aku sembah. Tuhan Aku mohon tundalah azabmu.

Surabaya, 4 November 2008

>>baca lagi......


SHEINA PEREMEPUAN DITITIK NADIR

Chapter 2


Oleh : Minhadzul Abidin

Matahari dengan anggunnya tersenyum menyinari bumi, mengawali langkahku di kota penuh inspirasi Jogjakarta, Aku melangkah dengan membisu, dalam keadaan yang semrawut, bau, kumal begitulah kondisiku setelah melewati perjalanan yang melelahkan, aku jadi malu berpapasan dengan mahasiswi-mahasiswi yang berseragam putih hitam berkulit segar dengan senyuman dan rintihan canda tawa mereka, ” aku ingin cepat sampai” begitu gumamku dalam hati, aku ingin mandi dan memakai pakaian yan terbagus atau andalan, kemudian aku ingin semprotkan parfum yang aku beli karena trinspirasi Teuku Wisnu waktu memakai parfum dan cewek-cewek berebutan memeluknya, ya andai aku superstar, ”Hei Amril” suara itu mengagetkan lamunanku, lama aku mulai bisa mengembalikan ruh ku yang sejak dari tadi mulai lepas dari ubun-ubun ku, lama aku melihat sosok didepanku, sosok yang aneh yang orang awam menyebutnya ”gembel” rambut gondrong, tubuh kurus, muka pucat, jeans sobek, bau, kumal , baju berlambangkan bintang merah, aku yakin Dia seorang Aktivis Mahasiswa Pergerakan yang mungkin beraliran sosialis, yang mengaggap apa artinya hidup kalau penderitaan dan kekerasan sturuktural oleh Neo-Liberalisme yang mengusung ide-ide kapitalisme mendominasi di Negeri ini, dengan tergagap aku menyapanya ” Hai, salam Perjuangan” kataku (dengan gaya Musolini waktu melambaikan salam kepada Adolf Hitler) kemudian tanpa dikomandoni dia juga melambaikan tangannya dengan salam rasisme itu. ” mau aku antar gak, soalnya Mujen sudah pindah kost ?” dengan muka yang penuh harap, ” oke, lah pakai apa?” kataku sambil mengerakkan alis mataku yang tebal yang kata orang mirip Ricky Harun, ya, charming-charming gitu dech! ” ya sebentar aku pinjam motor temanku” setelah melewati gang, kos-kosan,perumahan, kios-kios pinggir jalan, dan Asrama Mahasiswa kalimantan Selatan yang cukup megah dan besar , akhirnya sampai juga ” oke Ril, kamu dah nyampek, aku balikin motor dulu ya, ntar malam dech aku main-main kesini” dengan suara lirih dan sedikit meddok jawa ” oh ya , terima kasih, aku jadi gak enak” kemudian aku langsung menyodorkan uang Rp. 10.000, ” yah kamu, kayak aku tukang ojek aja, revolusi men,revolusi, oke boz”, kemudian dia ngacir hilang bersama asap motor yang mengebul. Revolusi entah kata apa itu, atau sejenis makanan.. .bodo amat yang penting Aku sudah sampai

Akhirnya Aku sampai juga dikosan Mujenni yang biasa dipanggil Mujen, teman akrabku di kampung yang sekarang kuliah di jogjakarta yang katanya ngambil jurusan Perbandingan Madzhab Hukum, disebuah kampus yang SUKA- SUKA di Jogjakarta, setelah aku bertanya, aku mulai mengetuk pintu kosan yang berwarna biru dan banyak stickernya, dari sticker partai, Kontestan PILKADA, sampai slogan-slogan anti korupsi, tapi yang mendominasi sticker musik gitu, underground man peace, salah satu sricker yang aku lihat ”ternyata Mujenni sudah berubah” gumamku dalam hati, sudah aktif dalam pergerakan pastinya, 5 menit Aku menunggu, akhirnya dibukakan juga, dengan wajah masih berbias lendir dan mata yang sedikit silau kena matahari, tanpa baju tapi pakai celana, lama dia mengucek matanya, sampai ” oh kau ke Ril ” 1 dengan nada yang sedikit terkejut, kemudian dibelakangnya muncul seorang cewek yang tergesa-gesa kekamar mandi, aku tidak terkejut hanya iri, kok bisa ya, seorang mujen bisa ditemani wanita dikosannya, sedangkan aku cewek saja tidak punya, masak kalah dengan Mujenni yang orang waktu disekolah dulu sering aku ganguin dan gak punya pengaruh lah disekolah, begitu aku berbicara lewat insting zero mind process atau bahasa nuraniku (mjeminjam istilah Ary Ginanjar Agustian, ESQ), ”Kok bengong, pasak keneko, biasa lah, kayak bobone ngindat anu battiru” 2 tanpa merasa bersalah dan Mujenni mencoba menyelami apa yang aku pikirkan ” inai nu je ye iru boy” 3aku bertanya dengan sepenuh hati dengan hati hati mecoba memancing, kemudian sambil duduk di dilantai ” Katis, korek, ngisat, Jungkit, Cuwit” begitulah kata-kata yang medominasi dari cerita Mujenni, ” Dek, Kenalin ini teman aku dikampung” suara Mujenni memperkenalkan aku dengan Ceweknya ” Aisyah, biasa dipanggil ais” sura lembut cewek itu memperkenalkan diri, ”Amril” dengan senyum khasku, ”woow bohong dia Dek namanya Bacok”, sial juga Mujenni dalam hatiku, mendingan namaku Bacok daripada Mujenni kayak nama siapa gitu , ”ya..biasa dipanggil Bacok” aku melanjutkan kataku sebelum Mujenni bercerita tentang nama Bacok itu, tangan dingin putih mulus itu menyalamiku, Subhannallah, begitu kata tema-teman Aktivis Dakwah kalau lagi melihat sesuatu yang indah ” Matadda ye boy” 4 kataku kepada Mujenni, ” siapa dulu dong Mujen”

” Aku mandi dulu ya” kemudian aku mengambil sabun dan sikat gigi serta handuk kecil berwarna biru, di kamar mandi tidak terasa ada gugatan-gugatan dikepalaku, yang perlu aku merumuskannya, gugatan itu selalu mendera nalarku dengan imajinasinya, khyalanku mulai menjadi, aktivitas yang mengundang nafsu yang kusaksikan tadi serta cerita-cerita melankolis paradigmatik Mujen dan ceweknya membuatku menghakimi kesendian-sendian sensitifitasku dan mulai meregang diantara sapuan kelembutan sabun sampai aku tidak kuat lagi dan bayangan perempuan bermata indah itu datang didepanku yang sejak dari dulu akau merindukan bayangannya, sehingga hasratku menjalar dan menghemapaskan sayap-sayap patah yang kelam dan berkecamuk di titisan kenikmatan surgawi dan terus mendekat. Plak-Plak, tamparan itu mengagetkanku ” kau, kurang ajar banget sih” suara merdu perempuan meringis aku dengar, apa yang terjadi dalam hatiku, aku mulai membuka mata ”SHEINA!!” aku terhentak apa yang telah aku lakukan sehingga Sheina meringis dan menamparku dan mengapa dia dikamarku, ”maaf Sheina, aku bermimpi” aku jadi merasa bersalah meskipun aku tidak tahu apa kesalahanku, ya sebagai lelaki sejati harus bisa dan berani minta maaf duluan apalagi kepada cewek yang benar-benar mebuat aku tunduk dan menghamba, aku jadi teringat bagaimana Peter Parker (Spiderman) merayu Marie Jane (MJ),” Marie Jane, jika aku menatap mata indahmu segala kebaikan dan kejahatan menyatu, menghempaskan diri masuk kedalam naluri hatimu, niat yang baik dan jahat akan bermuara dimata indahmu, sehingga aku sulit untuk menemukan siapa aku sebenarnya dalam dirimu” aku menghela nafas panjang mencoba kembali mengontrol diriku, ”kamu sih, masak bulan puasa kayak gini mau melakukan perbuatan maksiat, sama aku lagi teman baik kamu” Sheina dengan tatapan tajam menatapku, ups... perbuatan gila apa yang telah aku lakukan, aku mulai malu dan tidak bisa menatap mata Sheina lagi ” maaf, Sheina” dengan nada memohon aku kembali menatapnya. ” Sudahlah, gak usah dipikirin, Sekarang mandi dulu, aku mau minta tolong dianterin sama kamu, aku tunggu diluar ya” kemudian Sheina menghilang balik pintu kamarku, aku jadi tersungut-sungut, kemudian menghampiri cermin tua dikamarku yang cukup besar, aku ingin melihat wajahku yang kena tamparan Sheina, Aku cukup senang karena cap tangan orang yang aku cintai mendarat dipipiku meskipun sakit, lama aku melihat tamparan tangan mulus itu, dan kok bibirku kayaknya berdarah apakah dia meninjuku juga, kok gak terasa sakit, aku mulai memegang bibirku, ternyata bukan merah darah ternyata merah lipstik..... Sheina, apa yang telah aku lakukan?? Puasaku batal Tidak ya...?

”Ril padaliko mandi, ditunggu sananko le Sheina” suara Ibu ku memanggil ku, badanku masih terasa sakit, rasa kantuk masih terasa, Aku cuma tidur 2 jam karena sejak tadi malam aku di kapal perintis dan pertemuan yang cukup dramatis dengan Sheina gak pernah merasa ngantuk karena pikiranku menghanyut kemana-mana sampai datang ke tempat kelahiranku, kemudian makan sahur dan cerita-cerita dengan Ibu dan Ayah serta adik-adikku kemudian Sholat Shubuh berjama’ah di Masjid , sialnya ada pengajian shubuh juga sampai jam 6 pagi dengan mata memerah aku langsung tidur, eh dibangunin Sheina jam 8, meskipun kepala terasa berat, tapi smangat membara karena lagi ditugguin sama Tuan Puteri.. oh Tuan Puteri sheina, Pangeran is Coming......!
Aku sudah siap, dengan memakai baju yang menurutku modis banget dan pasti Sheina suka kaos oblong Warna ungu Quiksilver tapi bajakan yang aku beli di ITC Cempaka Mas, Jakarta Rp. 15.000 dengan Celana Jeans khas Pasha Ungu, dengan rambut khas gaya Vokalis The Titans, cocok lah dengan Sheina yang modis banget Jilbab paris warna biru langit, baju putih sepaha dan celana jeans ketat pensil dengan sepatu casual tipis warna putih kombinasi Pink. ”Ih.. Norak banget sih, kita itu bukan mau jalan-jalan tapi mau ke acara Daurah Ramadhan di Pesantren, U Now?” dengan nada kesal karena melihat dandananku yang menurut sebagian orang modis dan tipe cowok metropolis, ” sebentar ya aku ganti ” sejurus kemudian aku langsung ganti dengan pakaian kemeja warna putih garis-garis orange dengan celana bahan hitam, ” ya., gitu donk, itu baru Amril, bukan Bacok, he he” sheina mengejekku, ” kita jalan kaki neh” sembari jalan suaraku menimpali, ” mau pakek apa?, wong luas sapeken sekilo ini, jangan sok gaya dech” suara nada Sheina yang tinggi mecoba memberikan penekanan ” Aku juga bingung Ril kenapa orang Sapeken sukanya naik sepeda motor, disamping polusi, lagian jarak disapeken Cuma sekilometer,liat aja Ril Sapeken ini semakin panas bukan karena banyak Pendosa, karena kurang memahami wawasan lingkungan, ingat efek global warming” Sheina dengan serius menjelaskan kepadaku, tentang bahaya Global Warming, Akupun tidak pernah mengerti dengan Global Warming itu, ya jadinya aku tidak bisa mengikuti arah dan alur pembicaraan Sheina betapa bodohnya aku, lebih tololnya, mau tahu tidak? apa yang Aku perhatikan sejak dari tadi, yang Aku perhatikan wajah dan tubuh Sheina, yang semakin bohay dan indah dan gaya pinggulnya senada dengan pergantian detik jam digital milikku penuh ritme dan berirama, Woi.. puasa-puasa, apa hubungannya suara alam bawah sadarku menimpali, puasa-puasa, nafsu-nafsu pertentangan itu semakin berkecamuk dalam hatiku. Lama kami berjalan ditengah sorotan mata yang melihat yang mengawal langkah kami, Aku yakin yang dilihat adalah Sheina, sosok yang penuh keistimewaan yang mata tidak akan mengatup setelah melihatnya, ”pasangan ideal neh’ wuihhh.. aku sangat bangga dan senyum sendiri bahkan aku bisa terbang kalu tidak dipegang, tetapi yang lebih banyak sih mengatakan ”gak cocok woy, ada Tukul sama Luna Maya” selalu saja suara itu menimpali apalagi setelah jalan didepan sekretariat Himpuan Mahasiswa Se-Kecamatan Sapeken (HIMAS), yang sejak dari kejauhan kayaknya sudah melihat kami, kebetulan di Sekretariat itu lagi banyak orang yang berkumpull, Aku tidak tahu ada acara apa, Aku juga pernah diundang oleh Ketua nya, tapi aku tidak pernah ikut dan aktif serta aku merasa bodo amat dengan programnya..ya.. buatku organisasi adalah sekumpulan orang yang tidak ada kerjaan, begitupun dengan Sheina, kayaknya kami sejalan, tapi Sheina kok tiba-tiba mengajak aku ke acara Daurah Ramadhan di Pesantren lagi.

Anak-anak HIMAS berhamburan keluar menatap dengan nafsu kepada Sheina, ”oh..kenalan dong Mbak” mereka berebutan dengan tangan yang sadis, dengan refleks bak pahlawan kesiangan aku berucap ” maaf ya, tolong jangan ganggu Sheina” dengan tangan yang Aku dorong kepada anak-anak HIMAS yang terkesan mulai kurang ajar kepada Sheina, ya begitulah Sapeken tidak Mahasiswa, Pemuda dan Pelajar, bahkan orang tua kalau lihat barang baru yang original dan eksklusif semuanya seperti singa kelaparan. Tubak bunda Ruma le aha nyanyaranda, begitu pribahasa Sapeken menggambarkan hal itu ” Sheina” suara yang sangat lembut tapi mendalam itu menghentikan langkah dan aktivitas para Mahasiswa untuk berlomba kenalan dengan Sheina, Aku jadi bingung Mahasiswa yang katanya sang perubah, sang pelopor ternyata mempunyai moral yang minus, mana idealismemu kaum terdidik, jangan jadi sampah otak dong, gerutu ku dalam hati, sembari ekspresi kesal melihat ulah Mahasiswa-Mahasiswa tadi, ” Dare” Sheina berucap sambil tersenyum, ”cobalah mampir ke sekretariat HIMAS aku yakin teman-teman mau bebincang dan diskusi tentang Apa saja dengan kamu” Dare berkata dengan penuh kharismatiknya, namanya Ahmad Dare As-Syaibusi, kakak kelas Sheina dan Aku waktu di SD dan SMP yang kebetulan jadi ketua HIMAS sekarang , ”Maaf kita ketemu di Daurah Ramadhan saja” suara lembut Sheina menghamparkan suasana, ” oh iya, kebetulan teman-teman HIMAS juga dapat undangan” jawab Dare, "kami duluan ya, Assalamu’alaikum” kemudian Aku dan Sheina pergi meninggalkan mereka.

Sampailah ditempat Daurah Ramadhan yang kebetulan sudah banyak orang yang datang cewek-cewek semuanya berjilbab rapi dan panjang sedangkan cowok-cowok tampak syahdu dengan jenggot yang menghiasi dagu mereka sembari berkomat kamit dengan mushaf ditangan , tampak teduh, ”Assalamu’alaikum” Sheina dengan suara lembutnya, ” Wa’alaikum Salam tafaddhol Ukhti” setelah melihat Sheina mata mereka seakan jelalatan, ada-apa ini?, mata para cowok yang terlihat syahdu kok melihat kearah Sheina seperti mau menelanjangi Shena dengan matanya, Aku jadi Jeuleos neh, gumamku dalam hati, benar-benar Sheina kehadiranmu meruntuhkan iman, sekecil itukah iman yang katanya Nikmat Allah SWT yang Maha Besar yang diberikan kepada Manusia, sehingga dengan mudah dipatahkan oleh seorang Sheina, hatiku bertanya-tanya?
Tepat jam 10.00 WIB Acaranya pun dimulai, dengan Tema ” Sapeken Ibadah Menuju Penegakan Syariat Islam di Kepulauan” Aku dan Sheina perwakilan dari Remaja Masjid Mujahadah,banyak juga perwakilan dari lembaga lainnya termasuk HIMAS, tadi aku sempat mengeluh kok tempat dudukku dan Sheina dibedakan ya, kata panitianya antara perempuan dan laki-laki tempat duduknya dibedakan takut menganggu acara, Aku jadi sempat teringat Cerpen Putu Wijaya yang judulnya Aku Suka Gambar Cabul ” bahwa banyak orang yang memisahkan perempuan dan laki-laki hanya karena norma yang abstrak dan dipaksakan, berhasilkah? tetapi karena yang membuat peraturan itu butuh selangkangan juga ”, tibalah diskusi tetang ”Peran Perempuan Dalam Islam” kemudian Sheina mengacungkan jari dan Mulai berbicara ”Islam adalah agama rahmatan lil alamin, kalau berbicara tetang Perempuan kita tutup dulu Al-Qur’an dan Hadis kita, baru kita bicara tentang Perempuan karena Islam tidak punya konsep riil tentang pembebasan perempuan” serentak pendapat itu langsung ditanggapi dengan serius oleh peserta lain, aku tidak bisa mendengar lagi apa yang mereja katakan kecuali ” ini JIL, Pendapat Syetan, Feminisme radikal,La’natullah, Bertobatlah, kamu akan mati dan masuk neraka, Mu’tazilah, Hermeneutika” mereka berpendapat seperti itu, apa yang salah dengan pendapat Sheina, justru harus diluruskan bukan dicap seperti itu, hatiku bergumam lagi, katanya mereka Intelektual utusan perwakilan dari berbagai lembaga Islam yang terkenal, dan selalu menjunjung tinggi konsep menghormati pendapat orang lain, kenapa mereka begitu pemarah?, apakah ini yang dinamakan membela Islam, tetapi dengan cara merusak nilai-nilai Islam itu sendiri?, kemudian aku masih melihat ketegaran Sheina yang selalu istiqomah dengan pendapatnya, Dia mengambil contoh ” banyak bukti Islam kurang begitu perhatian dengan konsep perempuan, aku banyak menemukan itu dalam Al-Qur’an yang mungkin sama-sama kita mengetahuinya, dan kalau kita melihat tokoh Perempuan-Perempuan dalam Islam hanya bergerak dibelakang layar, seperti Khadijah dan Aisyah kurang begitu mendominasi, kalau beralih ke barat, kita tidak bisa menafikan barat, meskipun Barat berbeda ideologi dengan kita, karena apa bedanya Islam dengan barat dalam konteks ilmu, semuanya merupakan nikmat Allah bukan?, seperti kata Hasan Al-Banna, lanjut Sheina "Ilmu yang dibarat adalah mutiara-mutiara islam yang hilang" banyak kita temukan kiprah dan perjuangan serta dedikasi Perempuan di barat seperti Bunda Theresa, Marie Curie, Evita Peron, Margareth Techer, Angela Merkel (Kanselir Jerman/1st Women Of the Year 2008), Hillary Clinton, mereka penuh karya karena diberikan kebebasan berkendak, mengajukan pendapat,dan mendapat hak-haknya di kehidupan masyarakat, Islam pernah mempunyai Megawati dan Benadzir Butho tetapi mengapa mereka dihina dan dicibir serta dibunuh, belum lagi kasus Perempuan di Afghanistan pada waktu Pemerintahan Taliban, Mulai saatnyalah perubahan itu tanpa melihat keyakinan, ras, suku, atau jenis kelamin, banyaknya penyakit sosial pasti disalahlan Perempuan sebagai penyebabnya, kekerasan rumah tangga dan pelecehan TKW diluar negeri harus jadi prioritas konsep perubahan yang ditawarkan umat Islam untuk bisa bangkit, bukan berbicara pantaskah Wanita menjadi Presiden lagi, dan Mulut-mulut kaum Agamawan kita tidak pernah orgasme menyudutkan perempuan sebagai biang kemaksiatan.” sampai acara itu selesai tidak ada yang dihasilkan semuanya ngotot dengan pendapatnya masing-masing. dalam hatiku semakin cinta mati dengan sheina, Cantik dan Pintar, benar-benar cewek ideal, Aku semakin falling in love, it is about true Love

Kemudian kami pulang jam sudah menunjukkan jam 14.00 WIB, mataku ngantuk dan perut keroncongan ditengan panas yang menyelimuti sapeken, seandainya minum extra joss susu pakai es, kue sari mendapat, ditemani Rokok Mild terasa nikmat.. seger! Aku membayangkan sampai air liur semakin menderas, dalam perjalanan kami diam membisu, aku mencoba mengerti dan memahami karena wanita pasti ingin dimengerti, ”Ril ?kamu mencium bibirku tadi?” suara Sheina itu meledakkan lamunanku sehingga berkeping-keping, ”apa maksud kamu?, aku kira kamu bisa memahamiku, kamu yang tahu kehidupan kelamku di jakarta, pergaulanku, kok kamu malah terkesan memanfaatkanku, kamu pasti menertawaiku tentang konsep pemberdayaan perempuan yang kupaparkan tadi, sedangkan kamu tahu, bahwa aku adalah hina dan dina, aku tidak virgin, jarang sholat, mudah dipakai oleh laki-laki, memang gak pantas aku berbicara untuk kaumku?, bahwa aku ingin menebus dosaku bukan hanya untuk sekedar tobat saja agar perempuan-perempuan sapeken itu menyadari peran mereka yang tidak hanya dilahirkan untuk pemuas bagi laki-laki, dimanfaatkan dan dibodohi dengan cinta” dengan wajah geram menatapku, kok Sheina jadi marah kepadaku, apa salahku, apa dosaku ” maaf Sheina, aku gak bermaksud seperti itu” kemudian Dare datang menghampiri dengan menawari boncengan sepeda motornya ” mau ikut?”, sambil tersenyum buaya, Dare menawari seperti para SPG menawari baranganya dengan muka memelas dan merayu, ”of course, thank’s ya!” sejurus kemudian Dare langsung membawa Sheina hilang diujung jalan, dan aku lihat Sheina menikmati boncengan itu kalau memakai istilah orang sapeken ”Ganden Jajawe”.

Malam itu setelah habis tarawih, suara-suara kidung suci di langgar dan masjid bersahut-sahutan, tidak membuat hatiku tenang, hatiku gundah perasaan berkecamuk ingin kujelaskan semuanya kepada Sheina bahwa peristiwa tadi itu diluar bahasa kesadaranku, kayaknya Sheina juga menikmati ciuman indah itu, kok dia hanya salahkan aku. Sheina kamu dimana?, dengan siapa?, semalam berbuat apa? Lagu Yolanda Kangen Band menjilati relung-relung telingaku, tertatihku menunggumu, hatiku bergejolak, Aku jadi teringat puisi Supardi Djoko Damono, ”aku ingin mencintaimu dengan sederhana seperti kertas yang bertuluskan kata, dan api yang membakar kayu bakar”. Aku langsung mengambil Hand Phone kebangaanku Siemens A55, yang untuk ukuran tipe HP di Sapeken sangat ketinggalan, jempolku mulai beraksi ”Asslm. U dmn? Ama Siapa? Lagi ngapain? Aq k rmh u ya? Blz gpl” begitu bunyi SMS ku, tidak romantis ya, aku lihat Report nya kok Pending, karenanya aku berinisiatif datang kerumahnya, meskipun aku menyadari aku sangat takut dengan Ayahnya, aku jadi heran dengan sikap Ayah Sheina, sangat otoriter dan tidak pernah bersosialisasi dengan masyarakat, ke orotiterannyaSheina sering dipaksa melukis, karena Ayah Sheina Seorang maestro Seni Lukis di Kabupaten Sumenep yang namanya cukup bersinar waktu dulu , sempat Sheina bercerita bagaimana waktu buku-buku pelajarannya disekolah disobek oleh ayahnya dan empat suruh berhenti sekolah, dikunci dalam kamar,disiksa dan tangannya dijepit dengan rotan waktu salah menafsirkan lukisan yang seharusnya Realis Basuki Abdullah tetapi Sheina menerjemahkan Surealis perfeksionis Affandi, Ayahnya sangat pemarah terutama buat Sheina, sedangkan sama saudara-saudara sheina yang lain Ayahnya memperlakukannya dengan berbeda, begitu penuturan Sheina waktu curhat sama aku. Tetapi dalam bayangan kita mungkin anak yang dididik dari keluarga broken home akan menjadi anak yang gila dan stres dan penyakit kejiwaan lainnya akan muncul, tetapi sheina lahir sebagai pribadi cerdas, disukai sama teman-temannya dan tempat curhat serta dapat menyelesaikan masalah bagi teman-temannya, dan Sheina berhasil menjuarai lomba lukis se-provinsi Jawa Timur, kok bisa ya?, dalam perjalananku aku ke Rumah Sheina terus merenung dan di depan Toko Hj. Mey Aku terkejut banyak orang bergerombol dan dan dengan tatapan sadis, seraya mengucapkan “RAJAM-RAJAM” kemudian ada yang lagi berteriak “BOTAKIN, PEREMPUAN HINA, MAKSIAT BULAN PUASA, SYETAN, BIADAB, BINATANG” sumpah serapah itu, aku jadi ingat di buku karya Muhidin M. Dahlan, Tuhan izinkan aku Jadi pelacur ; memor luka seorang muslimah, dalam pengantarnya, Muhidin Sempat menulis bagaimana dua orang remaja laki-laki dan perempuan yang kepergok mesum, kemudian banyak yang menghina dan melontarkan sumpah serapahnya, melemparinya dengan batu, kemudian datanglah sosok berjubah putih kemudian memeluk kedua tubuh Remaja yang berdarah, sambil berkata dan mengacungkan tangannya keatas “ Wahai manusia yang Menghina apakah kalian tidak lebih baik dari perbuatan dua remaja tadi, apakah kalian tidak lebih hina daripada mereka jawab!!” sosok berjubah itu diyakini adalah Nabi Isa yang diturunkan Tuhan kebumi. “Ayo jangan melamun ayo kita Rajam Perempuan hina itu “ suara itu membuyarkan lamunanku kebetulan toko itu bersebelahan dengan Kantor Kepala Desa, hatiku galau dan mencoba bertanya, “ nia ayi?” 5 aku bertanya dengan tergesa-gesa “ kepada seorang yang membuyarkan lamunanku “nia aha takarapat”6 jawab orang itu sekenanya. Kemudian aku tanya kembali “sai?” 7 aku mencoba bertanya, “Indatnukene didirinu” 8, kemudian akupun mendekat ada hal yang berkecamuk dalam pikiranku dan aku langsung melihat wanita yang duduk tersungkur, tangannya diikat dan kepalanya diikat tetapi tidak digantung, Rambutnya acak-acakan, semrawut dan dia menatapku, dan tatapan itu.......

Bersambung....
tunggu Sheina Selanjutnya

Salemba, 8 September 2008

>>baca lagi......


SHEINA PEREMPUAN YANG DILAHIRKAN

UNTUK MELAHIRKAN

Oleh : Minhadzul Abidin

Perempuan itu dari tadi terus melihat kearahku. Apa yang salah dengan diriku mata yang sejernih embun, terkesimak diantara kelopak matanya yang lembut, aku jadi bingung dan sedikit ge-er dengan tatapannya.. oh tatapan yang jarang aku lihat sebuah tatapan yang kesyahduan dan keharu biruan yang lama kelamaan meruntuhkan nalar rasional dan keimananku.. Tuhan madahlah aku dalam tatapan itu, aku pun mulai menikmati tatapan indah itu, dengan sedikit gugup dan derasnya ambiguitas keberanian dan malu dalam rongga jasadiyahku…. Tidak lama berselang mata kami saling bertatapan dan perempuan itu mulai melebarkan bibir merahnya yang sejak dari tadi ia rapatkan, kalau aku berhalusinasi seperti gambaran sirkuit Monaco, memang sih gak ada hubungannnya tempat balapan atau sirkuit dengan bibir tapi keduanya sama mempunyai terowongan ya.. namanya berhalusinasi tidak salah khan...

kemnudian Dia berkata “Hai”, dan aku menjawab “Hai juga” cukup sederhana, lama kelamaan kami terdiam membisu, Perempuan itu langsung berinisiatif berdiri dan menghampiriku…dalam hatiku woow perfect!! Kemudian dia duduk disebelahku kebetulan tempat duduk disebelahku kosong, jantungku langsung berdesir dan berdegup kencang…bersahut sahutan dengan deru mesin kapal dan terjangan air laut… aku harus mengontrol dan mengusasi diriku…. Suara-suara bising disekitarku dan lagu-lagu para biduan TV yang sejak dari aku menikmatinya hilang.. hilang dan tidak aku dengar lagi, sempat saja aku dengar.. sekian lama aku menunggumu tanpa kedatanganmu…..datanglah kedatanganmu ku tunggu…kemudian suara itu hilang, hilang seperti aktivis-aktivis yang diculik oleh Orde baru tanpa jejak dan kabar… fokus seluruh indera dalam tubuhku sekarang pada seonggok tubuh perempuan yang duduk disebelahku, dengan perasaan yang berkecamuk aku pun langsung membuka kata… “apa kabar mau kemana?” perempuan itu menjawabnya tegas dan lugas tidak seperti perempuan yang selama ini aku kenal yang kemanyu, tidak berkarakter manja dan non-improvisasi… dia menjawab “aku datang dari astina untuk mengabarkan berita dan petunjuk baginda raja yudhistita tentang hidup dan kejujuran tentunnya beribicara kesenangan”.. dalam hatiku kok jadi cerita pewayangan Mahabharata dan Pandawa Lima.. ah.. gak serius neh orang dalam hatiku!! Aku pun langsung berkata apakah arjuna tidak menitipkan panahnya untuk memanah hatimu untuk cinta padaku.. ya tapi itu Cuma dalam hati, “

kok diam” suara melankolis perempuan itu membuyarkan lamunanku.. “ gak kok aku hanya belum mengerti dengan maksud kata-katamu tadi”, aku menjawab dengan serius, seserius muka Hillary Clinton waktu kalah dalam konvesi partai demokrat Amerika serikat oleh Barrack Obama, perlahan wanita itu mengerakkan badannya membetulkan tempat duduknya, “ aku aha ma sapekkan daha ko lagi baun polisi”[1] akupun terkejut apa hubungannya.. gak nyambung lah masak nyambung donk!! Tapi aku pun sedikit memaafkan ahistiorisnya kata-kata dia tadi, toh dia berasal dari tempat kelahiranku yang menjunjung tinggi ke”same”an yaitu nilai kebersamaan, persaudaran, seperti PLUR (Peace, Love, Unity dan Respect) nya SLANK, selain juga ada hal yang pasti membuat hati laki-laki normal memaafkannya. “oo maaf kodoh gai takatonanku[2] ..suara desingan mesin yang bermain-main dengan dentuman ombak diluar serta angin kencang menambah referensi dalam pembicaraanku… “ nama kamu siapa?, namaku Amril, Amril Satria, biasa dipanggil amril atau bacok”, siapa sih yang tidak kenal sama amril? Jawab perempuan itu, Aku pun terhenyak suasana mendung dan angin serta sedikit gerimis diluar tidak membuat aku dingin tetapi membuat aku panas, akupun mulai penasaran, dan kutatap lagi wajahnya kuamati dan sedikit kunikmati, siapa kamu sebenarnya dalam hatiku terus bertanya-tanya? “ kamu pasti sudah lupa dengan ini” perempuan itu menujukkan sebuah korek gas berwarna biru, apa artinya sebuah korek gas dengan wanita ini dan hubungannya dengan aku toh korek gas bisa dibeli dimana saja … wong harganya Rp. 1.000 kemudian dia membalikkan korek gas biru itu, dan aku lihat ada tulisan berwarna putih “POLITIK ADALAH CINTA” Sheina!!! Ya… sheina aku adalah sheina, aku pun merunduk, bergelayutan diantara semak-semak nostalgia dan kenangan indah serta cerita bersambung, mencoba menyambungkan kisah-kisah serta romantisme masa lalu.. lama aku merenung

Sheina Amalia begitulah nama lengkapnya, teman-teman ku biasa memanggilnya dia sheina, akun tidak tahu apa arti dari nama nya, akupun sempat menanyakan arti Sheina padanya tetapi dia juga tidak tahu, aku pernah satu sekolah dan atu kelas di SD dan SMP, dimasa-masa itu selalu timbul perasaan yang aku sendiri tidak tahu apa itu, maklumlah selain masih kecil kemudian disekolah di sebuah pulau yang terpencil, ya.. namanya belum kena globalisasi, guratan-guratan wajahnya waktu kecil dulu banyak orang memprediksikan bahwa Sheina akan tumbuh menjadi wanita yang cantik, lama-lama perasaan yang menghinggap semakin aku tidak tahu.. kok setiap ketemu sama sheina… aku jadi malu dan takut serta gelisah , ada denyut dan ritme kegundahan hati setiap ada yang mengabarkan bahwa dia sama-laki-laki lain..tidak bisa dipungkiri ada hal yang paling mendasar yang dimilki sheina adalah selain pintar,dia juga dewasa dalam berpikir, humoris,dicintai banyak orang, simpatik dan bahkan menjadi ibu untuk teman-teman sebayanya tapi tidak matotowe (sok tua) alamiah saja, berkarakter. Dan bahkan orang yang pertama kali jumpa sama dia akan sulit untuk melupakannya…. sampai SMA perasaan itu selalu menghinggapi meskipun sheina ada seberang sana… dan akupun tidak tahu apakah Sheina memiliki perasaan itu kepada ku.. tetapi aku tetap menjaga hatiku, lama sekali kita tidak pernah berjumpa, kemudian ada teman yang mengabarkan aku bahwa Sheina ada di Surabaya kuliah disana, dan kemarin aku dengar juga dia pindah ke Jakarta…oh malam yang yang melindungi jasad-jasad yang rapuh, apakah hati yang tertancap panah asmara adalah dialektika kamuflase hidup, apakah ruh dan jiwa akan tenang dan damai jika ada hal yang belum dia selesaikan….aku rindu padamu sheina, sheina cobalah pandangi langit malam ini dan hirup udara segar ingatlah aku sheina…. Sheina jangan menangis hapus air mata diwajah cantikmu…

Dalam satu kesempatan aku diajak teman ke Depok ada acara Jazz In Campus tepatnya di kampus UI, aku lihat ada bayangan.. berkelebat dan seperti sosok yang kukenal kemudian aku beranikan diri memanggil Sheina…yup.. Sheina perempuan itu menoleh.. aku juga tidak yakin itu sheina… rambut lurus rebonding, baju tengtop warna warna merah marun celana ketat pensil dengan pelukan seorang cowok di pinggangnya, tapi ada yang tidak membuat aku lupa yaitu tatapannya yang penuh kesyahduan dan kesederhanaan meskipun dandananya borjuis banget.. “ada apa ya… lu manggil gw”.. aku heran siapa lelaki yang disampingnya dia ja terus memeluk dan mendekap sheina dan tidak dibiarkannya sheina lepas dari dekapannya bahkan tangan satu membelai dengan lembut dan nafsu rambut indah sheina… “ada apa ya kok lu bengong, lu siapa sih??..” aku Amril teman satu kampung kamu.. “ ya ampun .. oh my godzz (dengan ekspresi cinta laura) amril”.. dengan menjulurkan tangan putihnya sheina menyalami aku, “ lama gak ketemu ya” kenalin beib neh teman ku dari Surabaya.. oh nama laki-laki innocent itu beib, surabaya mungkin maksud sheina Sapeken ya Surabaya kecil, tangan si beib dengan kasarnya menyalami aku… “ honey qta ditungguin ma teman-temen…ayo donk” suara beib innocent itu memaksa sheina untuk pergi, tangannya malah lebih garang lagi mengutak-atik pinggang sheina.. sesaat aku pun teringat dengan lagunya “DEWA” ingin ku bunuh pacarmu saat dia cium bibir merahmu… laki-laki pencemburu, dan mulai saat itu nilai simpatikku dan harapanku terasa sekarat, ingin aku euthanasia perasaan ku yang lagi koma ini, tapi lama aku memikirkan dan menghayati tatapannya yang indah dan menyejukkan, aku jadi rindu padanya. “Tuhan apakah ini sebuah kebodohan dan apakah ini ketololan yang kau ciptakan hanya untukku” lama aku kembali menghayati perasaanku, ternina bobokkan oleh rintihan suara sheina dalam dekapan dan hujaman sibeib yang innocent.. astaghfirullah kenapa aku berpikir seperti itu…



suatu saat lagi aku ketemu dengan sheina di toko buku gunung agung, sebenarnya aku jarang kesini paling-paling ya cari buku dikaki lima tepat disebelah took buku gunung agung ini, tetapi buku yang ku cari gak ada buku Andrea Hirata laskar pelangi, dan excellent life, aku sih dah ngeliat sheina dari tadi, tetapi aku gak menyapanya, karena aku sudah minder dan merasa tidak punya harapan lagi, dan siapa lagi cowok yang menaggandeng tangannya, kok bukan si beib… dan kemudian dia menyapaku “hai amril, ketemu lagi, lu kuliah dimana sih? “Aku di ciputat Universitas Islam Nusantara.. o jadi pak kyai donk…” maksud lu?? kok masuk ke kampusku interpretasi orang jadi kyai, kenapa juga aku tersinggung ya… karena jadi kyai adalah profesi anugerah Tuhan dunia dan akhirat, banyak kok kyai yang kaya yang jadi anggota DPR dalam hatiku bertanya-tanya, “ ya begitulah” aku jawab sekenanya lu dimana? “ aku di TRISAKTI ngambil komunikasi” wow kampus elite donk aku menimpali.. ya begitulah.. , dia kemudian menatapku itulah tatapan yang membuat jiwaku luluh lantak ibarat bom ataom sekutu yang meluluh lantakkan hirosima dan nagasaki.. kalau bisa maenlah kerumah atau ke kosanku daerah kemang 29 Jakarta selatan…lagi-lagi hatiku berdegup kencang, kok bisa ya ia tinggal di kawasan elite kayak gitu.. aku saja yang selama ini menetap di Jakarta, kosan aja kayak nomaden itupun dikawasan seperti dipulau saibus yang becek tapi aku masih bangga dengan hidupku, “ntar dech aku maen ke tempatmu” . dihari yang cukup cerah niatku untuk mampir kerumah sheina tidak bisa dielakkan lagi .. entah atas dorongan apa,siapa tahu sheina mengingat kenangan indah waktu di SD dan SMP, yang menurutku berkesan, apakah sheina nengingatnya kemudian apakah kalau aku mengatakan cinta kepadanya apakah dia langsung terima, ada segunung harapan dibenakku, segunung onak duri, yang ingin aku tumpahkan seperti merapi yang menumpahkan laharnya… dari ciputat aku naik 510 jurusan ciputat- kampung rambutan meskipun berdesak-desakan, tetapi enaknya berdesak-desakkan dengan mahasiswi yang mau pulang karena gak ada jam kuliah,aku turun dipasar jum’at, kemudian naik P20 lebak bulus-senen, kemudian turun dikantor pusat Koran republika dan naik 77 jurusan ragunan-blok M dan kemudian aku turun di kemang, caffe-caffe mahal, butik-butik mewah, apartemen-apartemen mewah menemani langkahku di kawasan ini. Setelah nanya beberapa kali tibalah aku didepan rumah cukup mewah tapi dipetak-petak, maklumlah kos-kosan aku langsung bertanya ke seorang tante yang mepunyai body bak Julie perez yang lagi menyiram bunga, tempatnya sheina dimana bu? Maaf salah tante, tapi dia tidak menghiraukan panggilanku, dengan wajah ekspresi yang genit dialangsung menunjuk pintu yang berwarna pink (merah muda) , tanpa basa basi lagi sejurus kemudian aku langsung ketuk pintu dan aku lihat sheina baru habis mandi dengan kemban handuk yang melekat ditubuhnya yang mulus, hatiku berdegup kencang… ayo masuk amril, maaf aku di luar saja.. “Pasak keneko pagir kite je itu “[3] ya.. aku beranikan masuk memang kosnya agak sempit dan, tidak semewah yang ku bayangkan, kasur dilantai dan lemari serta TV 14” kamar ini sudah kelihatan sempit ya maklum ukuran 3 x 4 meter,kalau ukuran Jakarta sudah mewah dan mahal karena kos dijakarta mahal-mahal uy, apalagi tempat elit seperti ini “minum apa ril?” gak usah repot-repot kok, ya udah aku buatin teh dulu ya….tidaki lama berselang ada suara pintu kamar mandi kebuka dan aku lihat si beib pria innocent itu keluar dengan telanjang dada, aku pun tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dan mencoba menguasai diriku dan mulai merokok Djarum Super kesukaanku dengan korek gas berwarna biru bertuliskan POLITIK ADALAH CINTA, “oh iya beib, amril temenin dulu, aku buatin minuman dulu” sorry ya honey ngantuk banget neh, ujar beib dengan nada malas..,dan lansung mendekap punggung Sheina yang masih dibalut handuk tipis Sheina dan mencium tenguknya.. Beib sudah beib malu dilihat tamu… aku pun gak betah lagi dikamar itu dalam bayangan ku kenapa sosok Sheina mudah banget diperlakukan seperti itu, dimana kehormatan dan harga dirinya yang membuat orang takjub kepadanya selama ini,mudah banget…..! berbagai macam hal berkecamuk dalm pikiranku seakan himpitan gunung himalaya menghimpit relung-relung hatiku, tidak bisa mengungkapkan kalimat apapun, akupun langsung lari sekencang-kencangnya secepat terjangan api Johny dalam Film Fantastic Four dan TIDAK!!!!



Amril kenapa?? Cuma-kamu sayang ku didunia ini… suara biduan TV dikapal mulai aku dengar lagi sayup-sayup..” gak apa-apa kok” kamu sakit ya Sheina menimpali, lama lho kamu terdiam dan merenung ada apa? “ lama aku menetap wajah disampingku ini, begitu jernih dan lembut, “kok kamu jadi bingung gini? Kamu kesambet ya? “ ada apa dengan diriku, whats wrong with me, tatapan itu, .. tatap mamtamu bagai busur panah yang kau lepaskan ke jantung hatiku…lama aku mulai mengontrol diriku dengan nafas tersengl-sengal, suara-suara ngorok orang disebelahku tidak lagi aku pedulikan…. Aku masih gak percaya dengan seoggok tubuh perempuan disebelahku yang dibalut baju putih tertutup dengan celana panjang warna hitam dan jilbab putih kompinasi hijau daun.. semakin menjernihkan muka putihnya.. “ amril” dengan tatapan berkaca-kaca, sheina mulai bicara, “kamu heran ya dengan perubahan diriku” maksuku bukan prubahan dalam pakaianku.. kamu pasti tahu kondisi pergaulanku di Jakarta khan… terlena dengan hedonisme dengan hal-hal yang berbau kesenangan, serta perangkap-perangkap perasaan yang meruntuhkan akalku, rayuan gombal dan metamorsis dekapan mesra yang berbuah sulaman kepalsuan para penjual cinta selalu mengahantui perjalanan langkah hidupku, sehingga aku terpana dan menyerahkan semuanya sesuai dengan fantasi mereka…dua tahun lalu dikosan itu hanya sekelumit kecil dari kebiadaban mereka yang terjadi dikosanku, pernah mereka mengahantam tubuhkau berama-ramai divilla dikawasan puncak dan dimobil waktu mau ke daerah Dago Bandung, aku pun dipaksa menari streptis dengan telanjang bulat waktu ulang tahun si beib oh aku sempat menyadari itu salah, tetapi aku menikmatinya.. sambil terisak menangisi hidupnya, kenapa kamu berubah tanyaku “ karena ini dia menunjukkan korek gas berwarna biru itu yang bertuliskan POLITIK ADALAH CINTA” oh iya aku jadi ingat setelah melihat aksi biadab beib kepada Sheina didepanku aku langsung pamit pulang dan tidak pernah ketempat itu lagi dan aku baru nyadar korek gas itu ketinggalan setelah dikosan dan aku anggap itu Cuma korek api biasa dan tidak berkesan,kenapa? Dengan korek gas itu, ya.. karena nya aku jadi ingat kamu, akupun jadi tersenyum dan sedikit ge-er, terus lanjut ku “ aku ingat kamu terus aku ingat kehidupanku di sapeken, ingatb orang tuaku, ingat teman-temanku, yang sayang dan perhatian kepada ku, apa artinya kesenangan tanpa mereka, apa tanggapan mereka setelah melihatku seperti ini…. aku kira ini bukan tobat seperti tobatnya para pelacur unuk mejadi orang baik.. lanjut sheina.. aku ingin para wanita mulai menyadari peran dan fungsinya sebagai generasi yang akan melahirkan generasi yang berkualitas untuk bangsa.. gimana akan melahirkan generasi sementara rahim yang dikandung itu adalah bagian kejahatan yang dinikmati juga oleh calon ibunya….,dimana akan melahirkan generasi anti koruptor, pemimpin yang pro rakyat, kalau mereka adalah rahim para penjual cinta yang munafik dan sering berbohong dan berdasar pada sesuatu yang illegal yaitu hubungan diluar nikah aku pun mulai mengerti dan memahami jalan pintas apa yang disampaikan oleh Sheina, bahwa dia ingin memperbaiki kesalahannya keterjunannya didunia kelam di Jakarta, kesenangan yang absurd dan tiupan-tiupan benih ncinta dari penjual cinta yang membiusnya, dia ingin membagi pengalaman hidupnya untuk diajarkan kepada generasi puteri yan mudah terjebak dan menjadi korban dari arus kebebasan… oh iya kamu bisa bantu akau khan ril?? Kebetulan aku sekarang aktif di lembaga kajian seroja untuk perempuan kepulauan” fokus kami perempuan kepulauan karena dilihat dari makanan pokoknya adalah ikan yang mempunyai kadar protein yang tinggi dan tingkat membangkitkan nafsu birahinya tinggi, dan mempunyai program khusus untuk pengembangan putri putri kepulauan yang lebih konkrit ya.. meskipun aku gak percaya dengan apa yang dia biacarakan tetapi aku lihat wajah ekspresif setiap dia menjelaskan programnya begtiu meyakinkan … belum terlambat memang karena perubahan bukan soal waktu…..malam sudah mulai dingin bau amis air laut yang menusuk hidung mulai semakin terasa.. kepalaku pusing akibat geleng-geleng kapal karena terpaan ombak, tetapi aku lihat kau masih sibuk menerangkan program pemberdayaan perempuanmu… tetapi mana pemberdayaan untuk aku…. Kenapa tidak pernah kau singgung aku selama ini, mataku mulai lelah, apakah beban peasaan ku yang terlalu dalam dan memori ingatanku yang kembali menyibak masa lalu membuat badanku dan tubuh terasa lunglai dari beberapa pembicaraan kita.. apakah kamu mengetahui perasaankuv selama ini dan perasaan itu tidak pernah berubah .....wahai kaum perempuan si penjaga hati bila kau resah maka zikirlah, bila kau dirundung sedih diamana sajadahmu sebagai lambang pertolongan Tuhan kepadamu, wahai kaum perempuan sipenjaga hati akankah kau hinakan dirimu dilembah kekonyolan dan kepalsuan dan disaat rasionalistas membeku tak berdaya… ya Tuhan berilah hidayah baru-Mu… mataku sudah semakin sepat tidak bisa untuk dilebarkan lagi mulai mengantuk dan tertidur dan…. JANTI-JANTI suara kernek bus membuyarkan lamunanku sedikti terhentak, “kiri bang”, aku turun di Janti kemudian naik lagi bus trans jogja Nomor I A yang melewati Ambarukmo plaza, kemudian lurus UIN SUKA dan turun di Timoho sapen disitulah tempat temanku…..welcome to jogja kota budaya kota inspirasi..

Untuk Sheina-Sheina Sapeken, ditunggu karyamu

Jogjakarta, 23 Agustus 2008


[1] Aku juga orang sapeken, tidak perlu bicara polisi (kebiasaan masyarakat sapeken untuk menyebut bahasa Indonesia senagai bahasa polisi)
[2] Oo maaf saya tidak tahu
[3] Masuk aja, bukaN orang lain orang sapeken juga (maksud dari maknanya bukan arti bahasanya)

>>baca lagi......

PEMBUNUH YANG TERBUNUH

Oleh Husnul Aqib

Ia masih saja menggenggam belati itu. diujung belati itu masih menetes percikan – percikan darah yang masih segar dan dihadapannya sebuah mayat telah terbujur kaku dengan luka dibagian dada dan perutnya, yah……ia baru saja melakukan tindak kriminal dengan keji. Telah menghilangkan nyawa seseorang – membunuh - tapi kedua tangannya gemetar dan air matanya menetes dari kelopak matanya yang begitu bening, ia menangis seolah – olah ia tak terbiasa melakukan hal seperti ini dan tak ingin kejadian itu terulang.

Seandainya bukan karena dendam ia tak akan pernah melakukan ini. Sesuatu yang paling dibencinya, mengerikan! selalu membuat ia tegang ketika menyaksikan fenomena seperti ini di layar kaca atau hanya mendengarnya di radio, bahkan ia sesekali menutup mata dan telinga atau cepat – cepat mengganti channel televisi dan radio saat ia mendengar dan melihat berita tragedi itu. Kini apa yang ia takutkan dan apa yang ia rasakan benar – benar terjadi. Bukan lagi sebuah ilusi atau bayang – bayang yang pernah menghantuinya walau hanya sekedar lewat melalui mimpi ataupun melalui perasaan yang tak pernah ia harapkan. Dan ia adalah korban sekaligus pelaku.

Tepat sebulan yang lalu. Pada malam hari, di saat orang - orang sekitarnya tengah tertidur lelap
menekuni mimpi–mimpi mereka, begitupula ayah, ibu dan adik perempuannya, tapi beda hal dengannya ia bangkit dipertengahn malam itu, mengambil air dan mensucikan diri berharap bertemu sang Khaliq dalam munajatnya, namun belum sempat ia menyelesaikan tugasnya dipertengahan malam itu terdengar suara keras dari balik pintu rumahnya. ia kedatangan dua orang yang tak ia kenal memakai topeng hitam dan masing – masing menggenggam dua bilah badik, tapi ia masih dalam kekhusyannya mengabdi pada sang pencipta – shalat lail – saat ia mendengar teriakan adik perempunnya ia baru menyadari bahwa telah terjadi sesuatu dalam rumahnya, iapun bergegas menghentikan zikir – zikir panjangnya yang masih menyisakan setengah, namun ia terlambat ia kini hanya menyaksikan kedua orang tuanya bersimbah darah dan saat ia mencari adiknya ia masih beruntung sebab ia masih bisa mencegah keberingasan dua orang penjahat itu merampas dan mencabik – cabik harga diri adiknya, lalu dengan jurus taekwondo yang pernah ia pelajari ia berhasil membuka topeng dua orang itu, iapun mngenalnya dan selalu mengingat – ingat dua wajah itu sebelum sempat melarikan diri.

Setelah kejadian itu, aliran darah ditubuhnya mulai memuncak dan mengeluarkan uap yang mendidih matanya tajam.bak harimau yang tengah berhadapan dengan mangsanya. ia telah kehilangan kedua orang yang sangat ia cintai, ibunya yang dengan susah payah melahirkannya dan ayahnya yang membanting tulang untuk dirinya dan adiknya begitu juga dengan adiknya sejak kejadian itu ia selalu mengurung diri di kamar, dan tak pernah lagi mau berbicara meskipun dengannya. adiknya trauma dan jiwanya mulai labil mencoba bunuh diri dengan mengiris urat nadinya, namun sempat dicegah.. ia menyimpan dendam, tapi ia sadar masih ada yang berhak untuk menangani hal ini, ia tak mau main hakim sendiri. Ia tak pernah tahu masalah apa yang menyebabkan dua orang bertopeng itu mendatangi rumahnya dan membunuh kedua orang tuanya serta hampir memperkosa adiknya adakah ia dan keluarganya berbuat kesalahan? Adakah yang menyimpan api kemarahan terhadap dirinya dan keluarganya? ia mencoba mengingat – ingat, namun ia tak menemukan titik – terang untuk itu. Sebab yang ia tahu selama ini ia tak pernah merasa mempunyai musuh. Ia mencoba segera melaporkan hal ini ke aparat.

Namun setelah ia tahu aparat tak mampu lagi menangani masalah ini, iapun mulai bertindak sendiri, mencari dua orang itu demi menuntaskan dendamnya, ia mulai berani. Sebulan setelah kejadian itu ia temukan pembunuh itu berjalan dalam lorong gelap. Ia kenal sekali, si rambut pirang yang hamper memperkosa adiknya beserta temannya berkumis dan berkepala plontos. tanpa basa basi dan tanpa ampun ia menghunus belati ke dada dan perut si pirang, menuntaskan dendamnya, crashh……..cairan merah muncrat dari tubuhnya “bajingan….bukankah seperti ini yang kau perbuat terhadap kedua orang tuaku?” batinnya dalam hati “engkau perlakukan mereka seperti binatang tanpa mengetahui masalah yang sebenarnya”. Teriaknya. Entah sadar ataupun tidak. Atau mungkin setan menjelma dalam raganya. Saat ia mencoba kembali menancapkan belati itu pada si plontos, ia tak kuat, ia menyerah dan tak tahan lagi, ia biarkan belati itu tetap berada dalam genggaman tangannya yang mengepal. Semakin gemetar. Ia tak tega melihat si plontos bersimbah air mata dan bercucuran keringat. Memohon ampun dihadapannya. Mengakui kesalahannya. “ pergiii…..” ancamnya. “ aku bukan pembunuh “ .
Ia masih saja menangis hingga air matanya menyerupai lautan dan keringatnya mengalir membasahi tubuhnya mengikuti irama getaran jiwanya yang suadah tak menentu. Ia tak peduli yang pasti ia telah menuntaskan dendamnya, walaupun masih menyisakan satu orang tapi ia tak kuat, tak tahan lagi berbuat sekeji ini. Ia mulai bingung apa yang akan ia lakukan terhadap dirinya dan terhadap seonggok mayat yang terbujur kaku dihadapannya. Sementara orang – orang disekelilingnya menatapnya dengan wajah takut dan tak mau mendekat walau hanya sekedar memberi pertolongan. seakan – seakan ia adalah serigala buas yang siap menerkam mangsanya atau mereka berpikir kalau ia adalah seorang pembunuh. Tapi siapa yang akan mereka tolong, iakah atau mayat itu? Sampai akhirnya polisi datang, memborgol tangannya, ia pasrah, ia puas walau ia tak pernah merasa bersalah. Ia digiring ke jeruji besi. Di dalam itu ia masih menyimpan pertanyaan tentang pembunuhan kedua orang tuanya yang belum tuntas. Ada yang bilang makar, ada yang bilang sengketa tanah, dan masih banyak lagi. Dan pertanyaan tentang aparat yang tak mampu mengungkap masalah ini untuk menemukan jawabannya.

Penulis adalah ketua bidang pengembangan SASTRA HIMAS PUSAT
mahasiswa ilmu komunikasi universitas islam negeri (uin) sunan kalijaga yogyakarta semester V
Alamat jl. Pedak baru no. 421A RT 15 RW 17 Banguntapan Bantul

>>baca lagi......