SHEINA PEREMEPUAN DITITIK NADIR

Chapter 2


Oleh : Minhadzul Abidin

Matahari dengan anggunnya tersenyum menyinari bumi, mengawali langkahku di kota penuh inspirasi Jogjakarta, Aku melangkah dengan membisu, dalam keadaan yang semrawut, bau, kumal begitulah kondisiku setelah melewati perjalanan yang melelahkan, aku jadi malu berpapasan dengan mahasiswi-mahasiswi yang berseragam putih hitam berkulit segar dengan senyuman dan rintihan canda tawa mereka, ” aku ingin cepat sampai” begitu gumamku dalam hati, aku ingin mandi dan memakai pakaian yan terbagus atau andalan, kemudian aku ingin semprotkan parfum yang aku beli karena trinspirasi Teuku Wisnu waktu memakai parfum dan cewek-cewek berebutan memeluknya, ya andai aku superstar, ”Hei Amril” suara itu mengagetkan lamunanku, lama aku mulai bisa mengembalikan ruh ku yang sejak dari tadi mulai lepas dari ubun-ubun ku, lama aku melihat sosok didepanku, sosok yang aneh yang orang awam menyebutnya ”gembel” rambut gondrong, tubuh kurus, muka pucat, jeans sobek, bau, kumal , baju berlambangkan bintang merah, aku yakin Dia seorang Aktivis Mahasiswa Pergerakan yang mungkin beraliran sosialis, yang mengaggap apa artinya hidup kalau penderitaan dan kekerasan sturuktural oleh Neo-Liberalisme yang mengusung ide-ide kapitalisme mendominasi di Negeri ini, dengan tergagap aku menyapanya ” Hai, salam Perjuangan” kataku (dengan gaya Musolini waktu melambaikan salam kepada Adolf Hitler) kemudian tanpa dikomandoni dia juga melambaikan tangannya dengan salam rasisme itu. ” mau aku antar gak, soalnya Mujen sudah pindah kost ?” dengan muka yang penuh harap, ” oke, lah pakai apa?” kataku sambil mengerakkan alis mataku yang tebal yang kata orang mirip Ricky Harun, ya, charming-charming gitu dech! ” ya sebentar aku pinjam motor temanku” setelah melewati gang, kos-kosan,perumahan, kios-kios pinggir jalan, dan Asrama Mahasiswa kalimantan Selatan yang cukup megah dan besar , akhirnya sampai juga ” oke Ril, kamu dah nyampek, aku balikin motor dulu ya, ntar malam dech aku main-main kesini” dengan suara lirih dan sedikit meddok jawa ” oh ya , terima kasih, aku jadi gak enak” kemudian aku langsung menyodorkan uang Rp. 10.000, ” yah kamu, kayak aku tukang ojek aja, revolusi men,revolusi, oke boz”, kemudian dia ngacir hilang bersama asap motor yang mengebul. Revolusi entah kata apa itu, atau sejenis makanan.. .bodo amat yang penting Aku sudah sampai

Akhirnya Aku sampai juga dikosan Mujenni yang biasa dipanggil Mujen, teman akrabku di kampung yang sekarang kuliah di jogjakarta yang katanya ngambil jurusan Perbandingan Madzhab Hukum, disebuah kampus yang SUKA- SUKA di Jogjakarta, setelah aku bertanya, aku mulai mengetuk pintu kosan yang berwarna biru dan banyak stickernya, dari sticker partai, Kontestan PILKADA, sampai slogan-slogan anti korupsi, tapi yang mendominasi sticker musik gitu, underground man peace, salah satu sricker yang aku lihat ”ternyata Mujenni sudah berubah” gumamku dalam hati, sudah aktif dalam pergerakan pastinya, 5 menit Aku menunggu, akhirnya dibukakan juga, dengan wajah masih berbias lendir dan mata yang sedikit silau kena matahari, tanpa baju tapi pakai celana, lama dia mengucek matanya, sampai ” oh kau ke Ril ” 1 dengan nada yang sedikit terkejut, kemudian dibelakangnya muncul seorang cewek yang tergesa-gesa kekamar mandi, aku tidak terkejut hanya iri, kok bisa ya, seorang mujen bisa ditemani wanita dikosannya, sedangkan aku cewek saja tidak punya, masak kalah dengan Mujenni yang orang waktu disekolah dulu sering aku ganguin dan gak punya pengaruh lah disekolah, begitu aku berbicara lewat insting zero mind process atau bahasa nuraniku (mjeminjam istilah Ary Ginanjar Agustian, ESQ), ”Kok bengong, pasak keneko, biasa lah, kayak bobone ngindat anu battiru” 2 tanpa merasa bersalah dan Mujenni mencoba menyelami apa yang aku pikirkan ” inai nu je ye iru boy” 3aku bertanya dengan sepenuh hati dengan hati hati mecoba memancing, kemudian sambil duduk di dilantai ” Katis, korek, ngisat, Jungkit, Cuwit” begitulah kata-kata yang medominasi dari cerita Mujenni, ” Dek, Kenalin ini teman aku dikampung” suara Mujenni memperkenalkan aku dengan Ceweknya ” Aisyah, biasa dipanggil ais” sura lembut cewek itu memperkenalkan diri, ”Amril” dengan senyum khasku, ”woow bohong dia Dek namanya Bacok”, sial juga Mujenni dalam hatiku, mendingan namaku Bacok daripada Mujenni kayak nama siapa gitu , ”ya..biasa dipanggil Bacok” aku melanjutkan kataku sebelum Mujenni bercerita tentang nama Bacok itu, tangan dingin putih mulus itu menyalamiku, Subhannallah, begitu kata tema-teman Aktivis Dakwah kalau lagi melihat sesuatu yang indah ” Matadda ye boy” 4 kataku kepada Mujenni, ” siapa dulu dong Mujen”

” Aku mandi dulu ya” kemudian aku mengambil sabun dan sikat gigi serta handuk kecil berwarna biru, di kamar mandi tidak terasa ada gugatan-gugatan dikepalaku, yang perlu aku merumuskannya, gugatan itu selalu mendera nalarku dengan imajinasinya, khyalanku mulai menjadi, aktivitas yang mengundang nafsu yang kusaksikan tadi serta cerita-cerita melankolis paradigmatik Mujen dan ceweknya membuatku menghakimi kesendian-sendian sensitifitasku dan mulai meregang diantara sapuan kelembutan sabun sampai aku tidak kuat lagi dan bayangan perempuan bermata indah itu datang didepanku yang sejak dari dulu akau merindukan bayangannya, sehingga hasratku menjalar dan menghemapaskan sayap-sayap patah yang kelam dan berkecamuk di titisan kenikmatan surgawi dan terus mendekat. Plak-Plak, tamparan itu mengagetkanku ” kau, kurang ajar banget sih” suara merdu perempuan meringis aku dengar, apa yang terjadi dalam hatiku, aku mulai membuka mata ”SHEINA!!” aku terhentak apa yang telah aku lakukan sehingga Sheina meringis dan menamparku dan mengapa dia dikamarku, ”maaf Sheina, aku bermimpi” aku jadi merasa bersalah meskipun aku tidak tahu apa kesalahanku, ya sebagai lelaki sejati harus bisa dan berani minta maaf duluan apalagi kepada cewek yang benar-benar mebuat aku tunduk dan menghamba, aku jadi teringat bagaimana Peter Parker (Spiderman) merayu Marie Jane (MJ),” Marie Jane, jika aku menatap mata indahmu segala kebaikan dan kejahatan menyatu, menghempaskan diri masuk kedalam naluri hatimu, niat yang baik dan jahat akan bermuara dimata indahmu, sehingga aku sulit untuk menemukan siapa aku sebenarnya dalam dirimu” aku menghela nafas panjang mencoba kembali mengontrol diriku, ”kamu sih, masak bulan puasa kayak gini mau melakukan perbuatan maksiat, sama aku lagi teman baik kamu” Sheina dengan tatapan tajam menatapku, ups... perbuatan gila apa yang telah aku lakukan, aku mulai malu dan tidak bisa menatap mata Sheina lagi ” maaf, Sheina” dengan nada memohon aku kembali menatapnya. ” Sudahlah, gak usah dipikirin, Sekarang mandi dulu, aku mau minta tolong dianterin sama kamu, aku tunggu diluar ya” kemudian Sheina menghilang balik pintu kamarku, aku jadi tersungut-sungut, kemudian menghampiri cermin tua dikamarku yang cukup besar, aku ingin melihat wajahku yang kena tamparan Sheina, Aku cukup senang karena cap tangan orang yang aku cintai mendarat dipipiku meskipun sakit, lama aku melihat tamparan tangan mulus itu, dan kok bibirku kayaknya berdarah apakah dia meninjuku juga, kok gak terasa sakit, aku mulai memegang bibirku, ternyata bukan merah darah ternyata merah lipstik..... Sheina, apa yang telah aku lakukan?? Puasaku batal Tidak ya...?

”Ril padaliko mandi, ditunggu sananko le Sheina” suara Ibu ku memanggil ku, badanku masih terasa sakit, rasa kantuk masih terasa, Aku cuma tidur 2 jam karena sejak tadi malam aku di kapal perintis dan pertemuan yang cukup dramatis dengan Sheina gak pernah merasa ngantuk karena pikiranku menghanyut kemana-mana sampai datang ke tempat kelahiranku, kemudian makan sahur dan cerita-cerita dengan Ibu dan Ayah serta adik-adikku kemudian Sholat Shubuh berjama’ah di Masjid , sialnya ada pengajian shubuh juga sampai jam 6 pagi dengan mata memerah aku langsung tidur, eh dibangunin Sheina jam 8, meskipun kepala terasa berat, tapi smangat membara karena lagi ditugguin sama Tuan Puteri.. oh Tuan Puteri sheina, Pangeran is Coming......!
Aku sudah siap, dengan memakai baju yang menurutku modis banget dan pasti Sheina suka kaos oblong Warna ungu Quiksilver tapi bajakan yang aku beli di ITC Cempaka Mas, Jakarta Rp. 15.000 dengan Celana Jeans khas Pasha Ungu, dengan rambut khas gaya Vokalis The Titans, cocok lah dengan Sheina yang modis banget Jilbab paris warna biru langit, baju putih sepaha dan celana jeans ketat pensil dengan sepatu casual tipis warna putih kombinasi Pink. ”Ih.. Norak banget sih, kita itu bukan mau jalan-jalan tapi mau ke acara Daurah Ramadhan di Pesantren, U Now?” dengan nada kesal karena melihat dandananku yang menurut sebagian orang modis dan tipe cowok metropolis, ” sebentar ya aku ganti ” sejurus kemudian aku langsung ganti dengan pakaian kemeja warna putih garis-garis orange dengan celana bahan hitam, ” ya., gitu donk, itu baru Amril, bukan Bacok, he he” sheina mengejekku, ” kita jalan kaki neh” sembari jalan suaraku menimpali, ” mau pakek apa?, wong luas sapeken sekilo ini, jangan sok gaya dech” suara nada Sheina yang tinggi mecoba memberikan penekanan ” Aku juga bingung Ril kenapa orang Sapeken sukanya naik sepeda motor, disamping polusi, lagian jarak disapeken Cuma sekilometer,liat aja Ril Sapeken ini semakin panas bukan karena banyak Pendosa, karena kurang memahami wawasan lingkungan, ingat efek global warming” Sheina dengan serius menjelaskan kepadaku, tentang bahaya Global Warming, Akupun tidak pernah mengerti dengan Global Warming itu, ya jadinya aku tidak bisa mengikuti arah dan alur pembicaraan Sheina betapa bodohnya aku, lebih tololnya, mau tahu tidak? apa yang Aku perhatikan sejak dari tadi, yang Aku perhatikan wajah dan tubuh Sheina, yang semakin bohay dan indah dan gaya pinggulnya senada dengan pergantian detik jam digital milikku penuh ritme dan berirama, Woi.. puasa-puasa, apa hubungannya suara alam bawah sadarku menimpali, puasa-puasa, nafsu-nafsu pertentangan itu semakin berkecamuk dalam hatiku. Lama kami berjalan ditengah sorotan mata yang melihat yang mengawal langkah kami, Aku yakin yang dilihat adalah Sheina, sosok yang penuh keistimewaan yang mata tidak akan mengatup setelah melihatnya, ”pasangan ideal neh’ wuihhh.. aku sangat bangga dan senyum sendiri bahkan aku bisa terbang kalu tidak dipegang, tetapi yang lebih banyak sih mengatakan ”gak cocok woy, ada Tukul sama Luna Maya” selalu saja suara itu menimpali apalagi setelah jalan didepan sekretariat Himpuan Mahasiswa Se-Kecamatan Sapeken (HIMAS), yang sejak dari kejauhan kayaknya sudah melihat kami, kebetulan di Sekretariat itu lagi banyak orang yang berkumpull, Aku tidak tahu ada acara apa, Aku juga pernah diundang oleh Ketua nya, tapi aku tidak pernah ikut dan aktif serta aku merasa bodo amat dengan programnya..ya.. buatku organisasi adalah sekumpulan orang yang tidak ada kerjaan, begitupun dengan Sheina, kayaknya kami sejalan, tapi Sheina kok tiba-tiba mengajak aku ke acara Daurah Ramadhan di Pesantren lagi.

Anak-anak HIMAS berhamburan keluar menatap dengan nafsu kepada Sheina, ”oh..kenalan dong Mbak” mereka berebutan dengan tangan yang sadis, dengan refleks bak pahlawan kesiangan aku berucap ” maaf ya, tolong jangan ganggu Sheina” dengan tangan yang Aku dorong kepada anak-anak HIMAS yang terkesan mulai kurang ajar kepada Sheina, ya begitulah Sapeken tidak Mahasiswa, Pemuda dan Pelajar, bahkan orang tua kalau lihat barang baru yang original dan eksklusif semuanya seperti singa kelaparan. Tubak bunda Ruma le aha nyanyaranda, begitu pribahasa Sapeken menggambarkan hal itu ” Sheina” suara yang sangat lembut tapi mendalam itu menghentikan langkah dan aktivitas para Mahasiswa untuk berlomba kenalan dengan Sheina, Aku jadi bingung Mahasiswa yang katanya sang perubah, sang pelopor ternyata mempunyai moral yang minus, mana idealismemu kaum terdidik, jangan jadi sampah otak dong, gerutu ku dalam hati, sembari ekspresi kesal melihat ulah Mahasiswa-Mahasiswa tadi, ” Dare” Sheina berucap sambil tersenyum, ”cobalah mampir ke sekretariat HIMAS aku yakin teman-teman mau bebincang dan diskusi tentang Apa saja dengan kamu” Dare berkata dengan penuh kharismatiknya, namanya Ahmad Dare As-Syaibusi, kakak kelas Sheina dan Aku waktu di SD dan SMP yang kebetulan jadi ketua HIMAS sekarang , ”Maaf kita ketemu di Daurah Ramadhan saja” suara lembut Sheina menghamparkan suasana, ” oh iya, kebetulan teman-teman HIMAS juga dapat undangan” jawab Dare, "kami duluan ya, Assalamu’alaikum” kemudian Aku dan Sheina pergi meninggalkan mereka.

Sampailah ditempat Daurah Ramadhan yang kebetulan sudah banyak orang yang datang cewek-cewek semuanya berjilbab rapi dan panjang sedangkan cowok-cowok tampak syahdu dengan jenggot yang menghiasi dagu mereka sembari berkomat kamit dengan mushaf ditangan , tampak teduh, ”Assalamu’alaikum” Sheina dengan suara lembutnya, ” Wa’alaikum Salam tafaddhol Ukhti” setelah melihat Sheina mata mereka seakan jelalatan, ada-apa ini?, mata para cowok yang terlihat syahdu kok melihat kearah Sheina seperti mau menelanjangi Shena dengan matanya, Aku jadi Jeuleos neh, gumamku dalam hati, benar-benar Sheina kehadiranmu meruntuhkan iman, sekecil itukah iman yang katanya Nikmat Allah SWT yang Maha Besar yang diberikan kepada Manusia, sehingga dengan mudah dipatahkan oleh seorang Sheina, hatiku bertanya-tanya?
Tepat jam 10.00 WIB Acaranya pun dimulai, dengan Tema ” Sapeken Ibadah Menuju Penegakan Syariat Islam di Kepulauan” Aku dan Sheina perwakilan dari Remaja Masjid Mujahadah,banyak juga perwakilan dari lembaga lainnya termasuk HIMAS, tadi aku sempat mengeluh kok tempat dudukku dan Sheina dibedakan ya, kata panitianya antara perempuan dan laki-laki tempat duduknya dibedakan takut menganggu acara, Aku jadi sempat teringat Cerpen Putu Wijaya yang judulnya Aku Suka Gambar Cabul ” bahwa banyak orang yang memisahkan perempuan dan laki-laki hanya karena norma yang abstrak dan dipaksakan, berhasilkah? tetapi karena yang membuat peraturan itu butuh selangkangan juga ”, tibalah diskusi tetang ”Peran Perempuan Dalam Islam” kemudian Sheina mengacungkan jari dan Mulai berbicara ”Islam adalah agama rahmatan lil alamin, kalau berbicara tetang Perempuan kita tutup dulu Al-Qur’an dan Hadis kita, baru kita bicara tentang Perempuan karena Islam tidak punya konsep riil tentang pembebasan perempuan” serentak pendapat itu langsung ditanggapi dengan serius oleh peserta lain, aku tidak bisa mendengar lagi apa yang mereja katakan kecuali ” ini JIL, Pendapat Syetan, Feminisme radikal,La’natullah, Bertobatlah, kamu akan mati dan masuk neraka, Mu’tazilah, Hermeneutika” mereka berpendapat seperti itu, apa yang salah dengan pendapat Sheina, justru harus diluruskan bukan dicap seperti itu, hatiku bergumam lagi, katanya mereka Intelektual utusan perwakilan dari berbagai lembaga Islam yang terkenal, dan selalu menjunjung tinggi konsep menghormati pendapat orang lain, kenapa mereka begitu pemarah?, apakah ini yang dinamakan membela Islam, tetapi dengan cara merusak nilai-nilai Islam itu sendiri?, kemudian aku masih melihat ketegaran Sheina yang selalu istiqomah dengan pendapatnya, Dia mengambil contoh ” banyak bukti Islam kurang begitu perhatian dengan konsep perempuan, aku banyak menemukan itu dalam Al-Qur’an yang mungkin sama-sama kita mengetahuinya, dan kalau kita melihat tokoh Perempuan-Perempuan dalam Islam hanya bergerak dibelakang layar, seperti Khadijah dan Aisyah kurang begitu mendominasi, kalau beralih ke barat, kita tidak bisa menafikan barat, meskipun Barat berbeda ideologi dengan kita, karena apa bedanya Islam dengan barat dalam konteks ilmu, semuanya merupakan nikmat Allah bukan?, seperti kata Hasan Al-Banna, lanjut Sheina "Ilmu yang dibarat adalah mutiara-mutiara islam yang hilang" banyak kita temukan kiprah dan perjuangan serta dedikasi Perempuan di barat seperti Bunda Theresa, Marie Curie, Evita Peron, Margareth Techer, Angela Merkel (Kanselir Jerman/1st Women Of the Year 2008), Hillary Clinton, mereka penuh karya karena diberikan kebebasan berkendak, mengajukan pendapat,dan mendapat hak-haknya di kehidupan masyarakat, Islam pernah mempunyai Megawati dan Benadzir Butho tetapi mengapa mereka dihina dan dicibir serta dibunuh, belum lagi kasus Perempuan di Afghanistan pada waktu Pemerintahan Taliban, Mulai saatnyalah perubahan itu tanpa melihat keyakinan, ras, suku, atau jenis kelamin, banyaknya penyakit sosial pasti disalahlan Perempuan sebagai penyebabnya, kekerasan rumah tangga dan pelecehan TKW diluar negeri harus jadi prioritas konsep perubahan yang ditawarkan umat Islam untuk bisa bangkit, bukan berbicara pantaskah Wanita menjadi Presiden lagi, dan Mulut-mulut kaum Agamawan kita tidak pernah orgasme menyudutkan perempuan sebagai biang kemaksiatan.” sampai acara itu selesai tidak ada yang dihasilkan semuanya ngotot dengan pendapatnya masing-masing. dalam hatiku semakin cinta mati dengan sheina, Cantik dan Pintar, benar-benar cewek ideal, Aku semakin falling in love, it is about true Love

Kemudian kami pulang jam sudah menunjukkan jam 14.00 WIB, mataku ngantuk dan perut keroncongan ditengan panas yang menyelimuti sapeken, seandainya minum extra joss susu pakai es, kue sari mendapat, ditemani Rokok Mild terasa nikmat.. seger! Aku membayangkan sampai air liur semakin menderas, dalam perjalanan kami diam membisu, aku mencoba mengerti dan memahami karena wanita pasti ingin dimengerti, ”Ril ?kamu mencium bibirku tadi?” suara Sheina itu meledakkan lamunanku sehingga berkeping-keping, ”apa maksud kamu?, aku kira kamu bisa memahamiku, kamu yang tahu kehidupan kelamku di jakarta, pergaulanku, kok kamu malah terkesan memanfaatkanku, kamu pasti menertawaiku tentang konsep pemberdayaan perempuan yang kupaparkan tadi, sedangkan kamu tahu, bahwa aku adalah hina dan dina, aku tidak virgin, jarang sholat, mudah dipakai oleh laki-laki, memang gak pantas aku berbicara untuk kaumku?, bahwa aku ingin menebus dosaku bukan hanya untuk sekedar tobat saja agar perempuan-perempuan sapeken itu menyadari peran mereka yang tidak hanya dilahirkan untuk pemuas bagi laki-laki, dimanfaatkan dan dibodohi dengan cinta” dengan wajah geram menatapku, kok Sheina jadi marah kepadaku, apa salahku, apa dosaku ” maaf Sheina, aku gak bermaksud seperti itu” kemudian Dare datang menghampiri dengan menawari boncengan sepeda motornya ” mau ikut?”, sambil tersenyum buaya, Dare menawari seperti para SPG menawari baranganya dengan muka memelas dan merayu, ”of course, thank’s ya!” sejurus kemudian Dare langsung membawa Sheina hilang diujung jalan, dan aku lihat Sheina menikmati boncengan itu kalau memakai istilah orang sapeken ”Ganden Jajawe”.

Malam itu setelah habis tarawih, suara-suara kidung suci di langgar dan masjid bersahut-sahutan, tidak membuat hatiku tenang, hatiku gundah perasaan berkecamuk ingin kujelaskan semuanya kepada Sheina bahwa peristiwa tadi itu diluar bahasa kesadaranku, kayaknya Sheina juga menikmati ciuman indah itu, kok dia hanya salahkan aku. Sheina kamu dimana?, dengan siapa?, semalam berbuat apa? Lagu Yolanda Kangen Band menjilati relung-relung telingaku, tertatihku menunggumu, hatiku bergejolak, Aku jadi teringat puisi Supardi Djoko Damono, ”aku ingin mencintaimu dengan sederhana seperti kertas yang bertuluskan kata, dan api yang membakar kayu bakar”. Aku langsung mengambil Hand Phone kebangaanku Siemens A55, yang untuk ukuran tipe HP di Sapeken sangat ketinggalan, jempolku mulai beraksi ”Asslm. U dmn? Ama Siapa? Lagi ngapain? Aq k rmh u ya? Blz gpl” begitu bunyi SMS ku, tidak romantis ya, aku lihat Report nya kok Pending, karenanya aku berinisiatif datang kerumahnya, meskipun aku menyadari aku sangat takut dengan Ayahnya, aku jadi heran dengan sikap Ayah Sheina, sangat otoriter dan tidak pernah bersosialisasi dengan masyarakat, ke orotiterannyaSheina sering dipaksa melukis, karena Ayah Sheina Seorang maestro Seni Lukis di Kabupaten Sumenep yang namanya cukup bersinar waktu dulu , sempat Sheina bercerita bagaimana waktu buku-buku pelajarannya disekolah disobek oleh ayahnya dan empat suruh berhenti sekolah, dikunci dalam kamar,disiksa dan tangannya dijepit dengan rotan waktu salah menafsirkan lukisan yang seharusnya Realis Basuki Abdullah tetapi Sheina menerjemahkan Surealis perfeksionis Affandi, Ayahnya sangat pemarah terutama buat Sheina, sedangkan sama saudara-saudara sheina yang lain Ayahnya memperlakukannya dengan berbeda, begitu penuturan Sheina waktu curhat sama aku. Tetapi dalam bayangan kita mungkin anak yang dididik dari keluarga broken home akan menjadi anak yang gila dan stres dan penyakit kejiwaan lainnya akan muncul, tetapi sheina lahir sebagai pribadi cerdas, disukai sama teman-temannya dan tempat curhat serta dapat menyelesaikan masalah bagi teman-temannya, dan Sheina berhasil menjuarai lomba lukis se-provinsi Jawa Timur, kok bisa ya?, dalam perjalananku aku ke Rumah Sheina terus merenung dan di depan Toko Hj. Mey Aku terkejut banyak orang bergerombol dan dan dengan tatapan sadis, seraya mengucapkan “RAJAM-RAJAM” kemudian ada yang lagi berteriak “BOTAKIN, PEREMPUAN HINA, MAKSIAT BULAN PUASA, SYETAN, BIADAB, BINATANG” sumpah serapah itu, aku jadi ingat di buku karya Muhidin M. Dahlan, Tuhan izinkan aku Jadi pelacur ; memor luka seorang muslimah, dalam pengantarnya, Muhidin Sempat menulis bagaimana dua orang remaja laki-laki dan perempuan yang kepergok mesum, kemudian banyak yang menghina dan melontarkan sumpah serapahnya, melemparinya dengan batu, kemudian datanglah sosok berjubah putih kemudian memeluk kedua tubuh Remaja yang berdarah, sambil berkata dan mengacungkan tangannya keatas “ Wahai manusia yang Menghina apakah kalian tidak lebih baik dari perbuatan dua remaja tadi, apakah kalian tidak lebih hina daripada mereka jawab!!” sosok berjubah itu diyakini adalah Nabi Isa yang diturunkan Tuhan kebumi. “Ayo jangan melamun ayo kita Rajam Perempuan hina itu “ suara itu membuyarkan lamunanku kebetulan toko itu bersebelahan dengan Kantor Kepala Desa, hatiku galau dan mencoba bertanya, “ nia ayi?” 5 aku bertanya dengan tergesa-gesa “ kepada seorang yang membuyarkan lamunanku “nia aha takarapat”6 jawab orang itu sekenanya. Kemudian aku tanya kembali “sai?” 7 aku mencoba bertanya, “Indatnukene didirinu” 8, kemudian akupun mendekat ada hal yang berkecamuk dalam pikiranku dan aku langsung melihat wanita yang duduk tersungkur, tangannya diikat dan kepalanya diikat tetapi tidak digantung, Rambutnya acak-acakan, semrawut dan dia menatapku, dan tatapan itu.......

Bersambung....
tunggu Sheina Selanjutnya

Salemba, 8 September 2008

Tidak ada komentar: